Tulisan ini bukanlah tulisan saya. Saya kutip dari dari satu situs ketika iseng-iseng browsing. Memang belakangan ini lagi agak kurang produktif nulis, lebih sering browsing dan riset sendiri
Yah mudah-mudahan sang empunya situs tidak keberatan tulisan ini saya cuplik. Aslinya dimuat di http://dibuangsayangamat.blogspot.com/2009/10/profesor-dr-siti-musdah-mulia-ma-apu.html
Memang sesuai nama blognya, sepertinya memang sayang tulisannya kalau dibuang. Kalau ada yang keberatan, silahkan langsung hubungi saya. Ini dia tulisannya. Semoga bermanfaat.
Profesor Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.: “Esensi Perkawinan dalam Islam Adalah Monogami”
Polemik tentang poligami kembali mencuat di tengah masyarakat kita pada bulan lalu. Baik yang pro maupun yang kontra saling mengemukakan pendapatnya masing-masing lewat berbagai media massa, termasuk perdebatan di dunia maya. Dari sekian banyak yang melontarkan pendapat, sosok Siti Musdah Mulia paling banyak mendapat perhatian. Pasalnya, ia merupakan salah seorang perempuan yang tegas-tegas menyatakan hukum poligami adalah haram karena ekses-eksesnya, haram li ghairi.
Argumentasinya meyakinkan, dengan penafsiran atas Alquran dan Hadis yang mencoba “menerobos” penafsiran dominan yang hidup di tengah masyarakat—penafsiran yang oleh beberapa kalangan dianggap bias gender karena umumnya dilakukan oleh ulama berjenis kelamin laki-laki. “Sampai-sampai, sebagian besar umat Islam di Indonesia kalau membayangkan ulama pasti membayangkan sosok laki-laki. Pernah, pada tahun 1993, suatu kementerian negara mengajukan formulir isian ke pemerintah-pemerintah provinsi di seluruh Indonesia, untuk mendata ulama-ulama dan tokoh spiritual agama lain yang ada di daerah-daerah. Hasilnya, seluruh ulama dari Islam berjenis kelamin laki-laki, tidak ada yang perempuan. Setidaknya ini menunjukkan apa yang terjadi di tengah masyarakat kita,” kata guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang juga salah seorang anggota Majelis Ulama Indonesia ini.
Popularity: 1% [?]
{ 0 comments }
Pelajaran bersyukur adalah pelajaran pertama yang saya anggap penting dalam setumpuk mata pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia. Dalam “mata pelajaran” yang satu ini, guru saya yang pertama dan terutama adalah almarhumah ibu saya sendiri. Ia mengajarkan kepada saya agar mendisiplin diri untuk belajar bersyukur dalam segala situasi, baik di kala suka maupun di kala duka.
Lama juga euy ga posting. Maaf saya sibuk posting yang lain 

























