<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Internet Marketing, Bisnis Internet &#38; Gaya Hidup - Ari Darmapala dot Com &#187; Siraman Jiwa</title>
	<atom:link href="http://www.aridarmapala.com/category/siraman-rohani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aridarmapala.com</link>
	<description>Lebih Dari Sekedar Internet Marketing</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Oct 2011 08:01:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Esensi Perkawinan dalam Islam Adalah Monogami</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2011/10/05/esensi-perkawinan-dalam-islam-adalah-monogami/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2011/10/05/esensi-perkawinan-dalam-islam-adalah-monogami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 07:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[mogami]]></category>
		<category><![CDATA[musdah mulia]]></category>
		<category><![CDATA[perkawinan]]></category>
		<category><![CDATA[poligami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bukanlah tulisan saya. Saya kutip dari dari satu situs ketika iseng-iseng browsing. Memang belakangan ini lagi agak kurang produktif nulis, lebih sering browsing dan riset sendiri   Yah mudah-mudahan sang empunya situs tidak keberatan tulisan ini saya cuplik. Aslinya dimuat di http://dibuangsayangamat.blogspot.com/2009/10/profesor-dr-siti-musdah-mulia-ma-apu.html Memang sesuai nama blognya, sepertinya memang sayang tulisannya kalau dibuang. Kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="alignleft size-full wp-image-362" title="poligami-ilustrasi" src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/uploads/2011/10/poligami-ilustrasi.jpg" alt="" width="150" height="150" />Tulisan ini bukanlah tulisan saya. Saya kutip dari dari satu situs ketika iseng-iseng browsing. Memang belakangan ini lagi agak kurang produktif nulis, lebih sering browsing dan riset sendiri <img src='http://www.aridarmapala.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />   Yah mudah-mudahan sang empunya situs tidak keberatan tulisan ini saya cuplik. Aslinya dimuat di <span style="color: #0000ff;">http://dibuangsayangamat.blogspot.com/2009/10/profesor-dr-siti-musdah-mulia-ma-apu.html</span></p>
<p>Memang sesuai nama blognya, sepertinya memang sayang tulisannya kalau dibuang. Kalau ada yang keberatan, silahkan langsung hubungi saya. Ini dia tulisannya. Semoga bermanfaat.</p>
<h3>Profesor Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.: “Esensi Perkawinan dalam Islam Adalah Monogami”</h3>
<div id="post-body-2719945525093463668">
<p>Polemik tentang poligami kembali mencuat di tengah masyarakat kita pada bulan lalu. Baik yang pro maupun yang kontra saling mengemukakan pendapatnya masing-masing lewat berbagai media massa, termasuk perdebatan di dunia maya. Dari sekian banyak yang melontarkan pendapat, sosok Siti Musdah Mulia paling banyak mendapat perhatian. Pasalnya, ia merupakan salah seorang perempuan yang tegas-tegas menyatakan hukum poligami adalah haram karena ekses-eksesnya, haram li ghairi.</p>
<p>Argumentasinya meyakinkan, dengan penafsiran atas Alquran dan Hadis yang mencoba “menerobos” penafsiran dominan yang hidup di tengah masyarakat—penafsiran yang oleh beberapa kalangan dianggap bias gender karena umumnya dilakukan oleh ulama berjenis kelamin laki-laki. “Sampai-sampai, sebagian besar umat Islam di Indonesia kalau membayangkan ulama pasti membayangkan sosok laki-laki. Pernah, pada tahun 1993, suatu kementerian negara mengajukan formulir isian ke pemerintah-pemerintah provinsi di seluruh Indonesia, untuk mendata ulama-ulama dan tokoh spiritual agama lain yang ada di daerah-daerah. Hasilnya, seluruh ulama dari Islam berjenis kelamin laki-laki, tidak ada yang perempuan. Setidaknya ini menunjukkan apa yang terjadi di tengah masyarakat kita,” kata guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang juga salah seorang anggota Majelis Ulama Indonesia ini.</p>
<p><span id="more-361"></span>Perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, pada 3 Maret 1958 ini memang dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan kesetaraan gender. Selain sebagai staf ahli Menteri Agama dan menjadi dosen pascasarjana di almamaternya, Musdah juga menjabat Direktur Institute for Religious and Gender Studies dan berbagai jabatan lain di sejumlah lembaga swadaya masyarakat, antara lain di Lembaga Pendidikan Al Wathaniyah, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dan International Scientific Moslem Women’s Council. Di sela-sela kesibukannya, Purwadi Djunaedi dari eve mewawancarainya di kantor ICRP, di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Berikut petikannya.</p>
<p><strong>Bagaimana penjelasan lebih jauh mengenai hukum haram li ghairi pada poligami itu?</strong></p>
<p>Dalam mazhab Hanafi kan dikenal istilah haram li zati dan haram li ghairi. Haram li zati itu adalah haram karena memang zat atau perilakunya sudah haram, misalnya minuman keras. Sementara itu, haram li ghairi adalah haram karena ekses-ekses yang ditimbulkan sudah sangat krusial di masyarakat. Kalau ekses-ekses yang krusial itu sudah dapat dihilangkan, ya, kembali ke hukum asalnya: boleh.</p>
<p>Saya melihat praktik poligami di masyarakat kita, dengan sejumlah data yang saya miliki, sudah menimbulkan hal yang sangat krusial, sudah menjadi problem sosial yang amat-amat besar. Angka kasus kekerasan dalam rumah tangga tinggi dan banyak kasus penelantaran anak.</p>
<p><strong>Bukankah kasus-kasus semacam itu juga ada dalam kehidupan perkawinan monogami?</strong></p>
<p>Monogami memang punya ekses yang sama. Tapi, begitu poligami, eksesnya lebih besar lagi. Dalam Islam, kalau kita membcarakan poligami, kita tidak bisa membicarakan poligami sendirian. Kita harus membicarakannya dalam bingkai perkawinan yang luas. Sebenarnya hukum perkawinan dalam Islam itu apa, sih? Tergantung pada kondisinya, kan? Perkawinan bisa menjadi haram juga, kan? Tapi, asal hukumnya adalah boleh. Jadi, artinya, perkawinan itu adalah sebuah pilihan, bukan kewajiban. Anda mau kawin atau tidak, silakan. Poligami harus berisi pesan-pesan keagamaan yang dituangkan dalam ayat-ayat Alquran tentan perkawinan. Penelitian saya mengungkapkan ada 106 ayat Alquran yang membicarakan soal perkawinan. Dalam Islam, perkawinan harus mengandung lima unsur pokok. Yang pertama, ada perjanjian atau komitmen yang sangat serius dari kedua belah pihak. Yang kedua, harus ada mawahdah wa rahmah, cinta yang amat dalam, yang susah diungkapkan dengan kata-kata, cinta tak bertepi. Karena itu, kita harus menerima pasangan kita apa adanya. Yang ketiga, harus ada sopan-santun, tenggang rasa, dan tidak boleh menyakiti pasangan kita. Tapi, coba lihat di masyarakat kita. Istri selalu diminta untuk tidak macam-macam, harus selalu memaafkan suami, agar bisa masuk surga. Sebaliknya, tak pernah diajarkan bahwa suami juga harus bersikap demikian kepada istrinya.</p>
<p>Yang keempat, harus ada kesetaraan, sama-sama menjadi subyek hukum. Tapi, di masyarakat kita, bahkan dalam Undang-Undang Perkawinan pun, perempuan masih menjadi obyek, bukan subyek. Contohnya, perempuan hanya bisa menggugat cerai. Tapi, kalau laki-laki langsung bisa menceraikan istrinya. Padahal, kalau perempuan menggugat, dia harus menghadapi selapis problem lagi. Itu artinya, perempuan yang sudah merasa tak nyaman harus menghadapi kondisi yang tak nyaman lagi. Kalau laki-laki, bisa setiap saat menceraikan istrinya.</p>
<p>Yang kelima, dari sejumlah ayat yang saya baca, esensi perkawinan dalam Islam adalah monogami. Tapi, orang begitu bicara poligami selalu mengatakan bahwa poligami ada ayatnya dalam Alquran, Surah Annisa ayat 3. Saya juga tahu ayat itu. Tapi, bagaimana kita membaca ayat itu?</p>
<p><strong>Bagaimana Anda membacanya?</strong></p>
<p>Baca dulu ayat 1-nya. Dalam Surah Annisa ayat 1, kita diminta oleh Tuhan untuk memperhatikan bahwa laki-laki dan perempuan itu diciptakan sama. Tidak ada perbedaan. “Kamu itu berasal dari satu spesies, karena itu kamu setara.” Lalu, pada ayat yang kedua, Allah mulai warning soal anak yatim. Karena, Islam datang untuk membebaskan masyarakat dari belenggu ketidakadilan, terutama ketidakadilan terhadap anak-anak yatim. Dan, ini terjadi pada semua masyarakat. Kelompok yang sangat rentan di masyarakat adalah kelompok yatim itu. Ayat ini sendiri turun setelah Perang Uhud, ketika banyak anak yatim yang telantar. Anak yatim itu tak semuanya miskin, sebagian dari mereka kaya. Nah, dari para wali yang dititipi anak-anak yatim itu ada yang culas, ingin mengawini anak-anak yatim yang kaya itu dengan niat menguasai harta mereka, agar harta itu tidak berpindah ke tangan orang lain.</p>
<p>Sebagian dari para wali itu memang tidak mengawininya, tapi menghalangi anak-anak yatim itu untuk menikah. Keculasan inilah yang ingin “ditembak” oleh ayat ini. Sampai-sampai, ayat yang ketiga berbunyi begini (Musdah membacakan Alquran dalam bahasa aslinya), “Supaya kamu tidak berlaku aniaya kepada anak-anak yatim, jangan kamu kawini anak-anak yatim itu, tetapi pilihlah yang lain, dua, tiga, atau empat.” Jadi, suasana dari ayat inilah yang kita baca. Ini kan ada konteks sosiokultural, sosiohistoris, yang harus kita baca: “Supaya kamu tidak menganiaya yatim itu, kamu bolehlah kawin dua, tiga, atau empat.” Dan, kemudian ujungnya berbunyi (Musdah kembali membaca ayat Alquran), “tapi kalau kamu tidak bisa berlaku adil, ya, satu saja.” Itu kan artinya, “dengan orang lain pun, yang bukan anak yatim, kamu tidak boleh berlaku macam-macam. Kalau tidak bisa berlaku adil, satu saja.” Jadi, ayat-ayat itu bukan tentang poligami, tapi tentang proteksi anak yatim. Tapi, yang ditangkap soal bolehnya poligami itu saja dan melupakan anak yatim. Itulah yang terjadi dalam masyarakat kita. Di mana-mana poligami terjadi, sementara anak yatim terlantar, tidak ada yang mengurus. Apakah itu esensi agama yang diturunkan kepada kita semua?</p>
<p>Dja’far al-Shadiq, ulama besar pada periode awal Islam, menjelaskan bahwa dalam perkawinan Islam hanya ada dua pilihan bagi suami: hidup bersama istri dengan penuh kedamaian atau berpisah dengan cara yang santun, sebagaimana dilansir ayat lain dalam surah yang sama. Jadi, tak ada pilihan ketiga!</p>
<p><strong>Tapi, Nabi Muhammad kan melakukan poligami?</strong></p>
<p>Data-data historis secara jelas menginformasikan bahwa ribuan tahun sebelum Islam turun di Jazirah Arab, masyarakat di berbagai belahan dunia telah mengenal dan bahkan secara luas mempraktikkan poligami, sehingga ketika itu sulit sekali menemukan bentuk perkawinan monogami, termasuk pada masyarakat Arab yang tekenal jahiliyah. Poligami yang berlangsung saat itu tidak mengenal batas, baik dalam jumlah istri maupun syarat moralitas keadilan. Lalu, Islam datang melakukan koreksi total secara radikal terhadap perilaku yang tidak manusiawi itu. Koreksi Islam menyakut dua hal. Yang pertama, Islam membatasi jumlah istri hanya empat. Yang kedua, ini yang paling radikal, Islam memperbolehkan poligami bagi suami yang menjamin keadilan untuk para istrinya. Perubahan drastis inilah yang diapresiasi sosiolog terkenal asal Amerika, Robert Bellah, yang mengatakan Islam sebagai agama yang sangat modern untuk ukuran masa itu.</p>
<p>Nah, pembatasan poligami yang sangat ketat dalam ajaran Islam seharusnya dibaca sebagai suatu cita-cita luhur dan ideal Islam untuk menghapuskan poligami secara gradual dalam kehidupan masyarakat. Layaknya kasus khamer, minuman memabukkan, larangan khamer tidak diturunkan sekaligus. Demikian pula larangan perbudakan. Tapi, dilarang secara bertahap sehingga terbangun kesiapan masyarakat untuk menerimanya secara mental dan sosial.</p>
<p>Semua pesan moral Alquran menggunakan ungkapan sesuai dengan keadaan masa turunnya, tapi pesan moral Alquran tidaklah dibatasi oleh waktu yang bersifat historis itu. Pesan moral keagamaan di balik ayat-ayat poligami, perbudakan, dan larangan minuman keras adalah menyadarkan manusia akan martabat kemanusiaannya, bahwa manusia makhluk Tuhan yang paling bermartabat. Manusia harus menghormati sesamanya tanpa perbedaan apa pun, jangan menganiaya diri sendiri, apalagi menganiaya orang lain.</p>
<p>Nah, Muhammad Rasulullah di tengah lingkungan tradisi poligami justru memilih monogami. Rasul menikahi Siti Khadijah ketika 25 tahun dan perkawinan Rasul yang monogami dan penuh kebahagiaan ini berlangsung selama 28 tahun: 17 tahun dijalani sebelum kerasulan dan 11 tahun sesudahnya. Kebahagiaan pasangan ini menjadi inspirasi dalam banyak doa pengantin yang dilantunkan pada jutaan prosesi perkawinan umat Islam. Kalau poligami mulia, mengapa Rasul tidak melakukannya sejak awal? Padahal, di mata masyarakat Arab ketika itu, Rasul sangat pantas berpoligami. Semua persyaratan poligami dimilikinya: mampu berbuat adil; keturunan tokoh Quraisy terkemuka; simpatik dan berwajah rupawan; tokoh masyarakat yang disegani; pemimpin agama yang kharismatik; dan terlebih lagi Khadijah tak memberikan anak laki-laki yang hidup sampai dewasa. Namun, Rasul bergeming, tetap pada pilihannya untuk monogami. Ketika Khadijah wafat, Rasul mengalami kesedihan yang luar biasa, sampai-sampai tahun kematian Khadijah diabadikan dalam sejarah Islam sebagai amul azmi, tahun kepedihan.</p>
<p>Tiga tahun berlalu dari wafatnya Khadijah, Rasul dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk mengembangkan syiar Islam ke Yastrib dan juga ke luar Jazirah Arab. Kondisi masyarakat yang bersuku-suku di kala itu memaksa Rasul harus menjalin komunikasi yang luas dengan berbagai suku agar mereka dapat mendukung perjuangannya; dan perkawinan menjadi alat komunikasi yang strategis. Demikianlah Rasul kemudian menikahi beberapa perempuan demi terlaksananya syiar Islam. Perempuan pertama yang dinikahi Rasul setelah Khadijah wafat adalah Saudah binti Zam’ah, yang berumur 65 tahun, bahkan ada yang meriwayatkan 72 tahun; sedangkan usia Rasul 54 tahun. Rasul mengawini Saudah demi melindungi janda tua itu dari keterlantaran dan tekanan keluarganya yang masih musyrik. Mungkin juga sebagai balas budi atas jasa suaminya, Sakran ibn Amar, ketika masih hidup, yang menyertai Rasul dalam perjalanan hijrah ke Abessinia.</p>
<p>Setelah itu, Rasul mengawini Aisyah, satu-satunya istrinya yang perawan dan masih muda, bahkan terlalu muda. Pada masa itu, mengawini anak-anak belum dikategorikan sebagai tindakan yang melanggar hak anak. Selanjutnya Rasul mengawini beberapa perempuan lain. Semua perkawinan itu berlangsung di Madinah dan dalam rentang waktu yang sangat pendek, 5 tahun. Rasul wafat tahun 632 Masehi atau tiga tahun setelah perkawinannya yang terakhir. Dan, tidak ada satu pun dari para istrinya yang pernah diceraikan. Rasul juga memperlakukan para istrinya secara adil dan bijaksana. Rasul tidak memilih perempuan muda dan cantik sebagaimana lazimnya dilakukan laki-laki. Tujuan perkawinan Rasul bukan untuk memenuhi hasrat biologisnya, melainkan untuk kepentingan yang lebih mulia, yaitu menjaga umat menuju tegaknya masyarakat Madinah yang didambakan.</p>
<p>Jika umat Islam ingin mengikuti sunah Rasul dalam perkawinan, pilihan bijak tentulah mengikuti perkawinan monogami Rasul yang penuh kebahagiaan dan berlangsung sekitar 28 tahun, bukan perkawinan dengan banyak istri yang hanya berlangsung kurang-lebih 6 tahun. Lagi pula, Rasul sendiri tidak setuju anak perempuannya, Fatimah az-Zahra, dimadu. Rasul marah dan mengecam menantunya yang berniat berpoligami, sebagaimana diungkapkan banyak Hadis sahih, dengan redaksi yang persis sama. Dalam perspektif ilmu Hadis, itu mengindikasikan Hadis tersebut diriwayatkan secara lafzi, yakni sangat terjamin kesahihannya. Hadis tersebut juga bisa mengandung makna, betapa beratnya tanggung jawab suami dalam poligami sehingga hanya manusia setingkat Rasul yang mampu melakukannya secara adil sesuai ketentuan syariah.</p>
<p><em>Ada komentar?</em></p>
</div>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=361&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2011%2F10%2F05%2Fesensi-perkawinan-dalam-islam-adalah-monogami%2F&amp;title=Esensi%20Perkawinan%20dalam%20Islam%20Adalah%20Monogami" id="wpa2a_2"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2011/10/05/esensi-perkawinan-dalam-islam-adalah-monogami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Bersyukur</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2011/09/08/pelajaran-bersyukur/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2011/09/08/pelajaran-bersyukur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 05:57:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran bersyukur adalah pelajaran pertama yang saya anggap penting dalam setumpuk mata pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia. Dalam &#8220;mata pelajaran&#8221; yang satu ini, guru saya yang pertama dan terutama adalah almarhumah ibu saya sendiri. Ia mengajarkan kepada saya agar mendisiplin diri untuk belajar bersyukur dalam segala situasi, baik di kala suka maupun di kala duka. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-355" style="margin: 5px; border: 5px solid grey;" title="kristalairbersyukur" src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/uploads/2011/09/kristalairbersyukur-150x150.jpg" alt="Ini gambar kristal air yang bersyukur" width="150" height="150" />Pelajaran bersyukur adalah pelajaran pertama yang saya anggap penting dalam setumpuk mata pelajaran di sekolah kehidupan Indonesia. Dalam &#8220;mata pelajaran&#8221; yang satu ini, guru saya yang pertama dan terutama adalah almarhumah ibu saya sendiri. Ia mengajarkan kepada saya agar mendisiplin diri untuk belajar bersyukur dalam segala situasi, baik di kala suka maupun di kala duka.</p>
<p>Bersyukur di kala suka, yakni saat hidup berjalan sebagaimana saya harapkan, tidaklah sulit. Saya dengan mudah mengucapkan syukur atas segala macam hadiah yang saya peroleh, prestasi yang saya raih, penghargaan yang saya terima, dan berbagai rejeki serta kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Dan setiap kali saya mengingat-ingat kemurahan Tuhan, saya dengan mudah dapat mengucapkan syukur dalam hidup saya.</p>
<p>Namun, bersyukur di kala duka acap kali tidak mudah saya lakukan. Bagaimana saya harus bersyukur ketika hidup berjalan tidak seperti yang saya inginkan? Ketika saya kecewa karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan, atau ketika beban kehidupan terasa berat karena harus menunaikan sejumlah kewajiban dalam keluarga atau dalam pekerjaan, maka mengucap syukur menjadi soal yang tidak mudah. <span id="more-354"></span>Apalagi ketika saya berulang kali harus menerima kenyataan sejumlah usaha yang saya rintis untuk meningkatkan tarap hidup, justru berakhir dengan kegagalan dan kebangkrutan. Bukan hanya tidak memberikan hasil seperti yang saya harapkan, saya terkadang harus menanggung beban hutang yang harus dicicil selama beberapa tahun. Hal-hal semacam itu membuat saya kecewa, frustasi, sedih, dan hampir putus asa. Biasanya pada saat-saat semacam itu, gelombang kekhawatiran mengenai masa depan muncul silih berganti. Masa depan nampak sebagai sesuatu yang menyeramkan, dan semangat hidup turun pada tingkat terendah.</p>
<p>Saya kemudian menyimpulkan bahwa bersyukur di kala suka itu mudah, tetapi bersyukur di kala duka memerlukan latihan dan disiplin. Bersyukur atas berkat yang Tuhan limpahkan itu gampang, tetapi bersyukur atas penderitaan yang Tuhan ijinkan menimpa hidup saya, jelas tidak mudah. Dan karena yang terakhir ini tidak mudah, saya perlu mempelajarinya dengan lebih seksama.</p>
<p>&#8220;Sekurang-kurangnya ada dua pilihan yang bisa kamu ambil ketika hidupmu sedang dilanda kesusahan. Pertama, kamu bisa mengeluh atau bahkan mengutuk hidup sendiri; Kedua, kamu bisa tetap bersyukur karena kamu yakin bahwa tidak ada kesusahan yang di ijinkanTuhan melampaui kekuatan yang telah diberikannya kepada kamu. Bahkan acapkali kesusahan yang di ijinkan Tuhan itu sesungguhnya merupakan sebuah proses persiapan untuk kamu menikmati suka cita yang lebih besar dari yang pernah kamu alami sebelumnya,&#8221; kata Ibu saya. Dan dalam praktik hidup yang nyata, Ibu saya selalu memilih yang kedua. Sepanjang hidupnya saya tidak pernah mendengar Ibu saya berkeluh kesah. Ia selalu bersyukur. Selalu. Ini membuat saya kagum dan menghormati ajarannya.</p>
<p>Bagi Ibu saya, bersyukur adalah soal pilihan pikiran dan hati. Kita bebas menentukan pilihan, namun kita terikat pada dampak yang ditimbulkan oleh setiap pilihan. Entah sadar atau tidak, bagi Ibu saya jelas bahwa mengeluh dan mengutuki kegagalan dan kesusahan hidup tidak pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Keluhan bahkan membuat kita makin kehilangan semangat hidup dan terperosok lebih dalam kejurang keputusasaan. Sebaliknya, dengan tetap mengucap syukur kita kemudian ditolong untuk menemukan kembali kegairahan hidup, mendapatkan semacam kekuatan untuk menghadapi kenyataan sepahit apapun. Bersyukur membuat mata pikiran [eye of mind] dan mata batin [eye of spirit] kita terbuka lebih lebar, sehingga dapat melihat berbagai kemurahan tuhan yang nyata-nyata telah [bukan] akan Ia berikan dalam hidup kita. Atas kemurahan Tuhanlah kita masih hidup, masih bisa bernafas, masih bisa makan dan minum, masih memiliki pakaian, tempat tinggal, di beri kesehatan, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, bersyukur menolong kita untuk tetap menjaga perspektif hidup secara keseluruhan, tidak terjebak hanya melihat sisi gelap kehidupan kita saat menderita.</p>
<p>Bagaimana caranya agar kita tetap mampu bersyukur dalam segala situasi, terutama ketika situasi kita tidak menyenangkan? Bagi Ibu saya caranya amatlah sederhana. Ia mempraktikkan syair lagu berikut:</p>
<p>Bila hidupmu dilanda topan b&#8217;rat<br />
Engkau putus asa hatimu penat<br />
Berkatmu kau hitung satu persatu<br />
K&#8217;lak kau tercengang melihat jumlahnya<br />
…</p>
<p>Itulah caranya. Dan itulah yang saya coba praktikkan selama berpuluh tahun. Bila kesusahan hidup mendera, saya mengambil selembar kertas dan memaksa pikiran saya untuk menemukan sejumlah hal yang pantas saya syukuri dalam hidup. Saya mendaftarkan sejumlah prestasi dan penghargaan yang pernah saya raih; menambahkan sejumlah hal yang berhasil saya miliki; menuliskan semua tempat rekreasi dan kota-kota yang pernah saya kunjungi; mencatat satu per satu anggota tubuh saya yang sehat; buku-buku yang sempat saya baca; nama-nama orang yang pernah menolong saya atau yang pernah saya tolong; bahkan juga kesusahan-kesusahan yang pernah saya lalui; dan seterusnya. Dan sejauh ini harus saya akui, saya akhirnya sering tercengang melihat jumlahnya. Biasanya saya berhenti ketika daftar syukur saya mencapai angka seratus. Bila saya lanjutkan, maka jumlahnya pasti bisa ditambah sepuluh atau dua puluh kali lipat, atau bahkan lebih. Lalu saya merenung dan bertanya pada diri saya sendiri: tidak cukup banyakkah berkat Tuhan yang telah nyata-nyata saya terima dan saya alami dalam hidup saya? Lalu adilkah saya bila karena sebuah penderitaan saja, semua berkat Tuhan itu saya anggap tidak bernilai? Bukankah pada kenyataannya saya telah menerima begitu banyak berkat yang melampaui apa yang sesungguhnya saya butuhkan untuk hidup?</p>
<p>Lambat laun, setelah latihan bersyukur dalam segala situasi selama puluhan tahun, saya kemudian menyadari ada perbedaan antara orang yang bisa bersyukur dengan orang yang mahir bersyukur. Sama seperti orang yang bisa berenang harus dibedakan dengan mereka yang mahir berenang, orang yang bisa naik sepeda harus dibedakan dengan pembalap sepeda, dan seterusnya. Bisa belum tentu mahir, tetapi mahir pasti bisa.</p>
<p>Orang yang bisa bersyukur adalah mereka yang bersyukur ketika hidupnya berjalan sesuai keinginannya, tetapi mengeluh ketika kesusahan datang. Sementara orang yang mahir bersyukur tetap bisa mengucap syukur bahkan ketika hidup berjalan tidak seperti yang diharapkan. Kesadaran ini membuat saya menetapkan dalam hati saya akan menempa diri agar menjadi orang yang mahir bersyukur, bukan sekadar bisa bersyukur. Bahkan lebih dari itu, saya berharap bisa &#8220;mewariskan&#8221; kecakapan mengucap syukur dalam segala situasi ini kepada anak-anak saya dan kepada setiap orang yang bisa saya sentuh hidupnya dengan berbagai cara, termasuk dengan cara menuliskan artikel sederhana ini.</p>
<p>Tentang kemahiran bersyukur ini saya pernah melakukan sebuah eksperimentasi selama sepuluh bulan dengan melibatkan 500 peserta program pelatihan dari 20-an angkatan/kelas yang saya fasilitasi. Dalam salah satu materi pelatihan, saya meminta semua peserta berlomba mebuat daftar &#8220;25 hal yang saya syukuri dalam hidup&#8221;. Hasilnya menunjukkan bahwa untuk setiap angkatan hanya 1-2 orang saja yang mampu menyelesaikan daftar syukur tersebut dalam waktu 4 menit atau kurang [rekor tercepat adalah 2,5 menit]. Lebih dari 95% peserta memerlukan waktu yang lebih lama. Karena itu secara hipotetis saya menganggap bahwa jumlah yang banyak itu termasuk kategori orang bisa bersyukur, sementara jumlah yang 5 persen itu bisa dikelompokkan sebagai orang yang mahir bersyukur.</p>
<p>Belajar mengucap syukur dalam segala situasi, itulah salah satu pelajaran penting yang saya pelajari di sekolah kehidupan Indonesia. Dan saya sungguh bersyukur bahwa untuk pelajaran yang sepenting itu, Tuhan memberi saya seorang guru terbaik yang pernah saya kenal: Ibu saya sendiri.</p>
<p>Tabik!</p>
<p>Oleh: Andrias Harefa *<br />
*) Andrias Harefa; Mindset Therapist, Penulis 37 Buku Best-seller, Trainer/Speaker Coach Berpengalaman 20 Tahun</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=354&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2011%2F09%2F08%2Fpelajaran-bersyukur%2F&amp;title=Pelajaran%20Bersyukur" id="wpa2a_4"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2011/09/08/pelajaran-bersyukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bakat Vs Usaha</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2010/03/17/bakat-vs-usaha/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2010/03/17/bakat-vs-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 08:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[bakat]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan.&#8221; Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>&#8220;Potensi yang tidak diledakkan akan tetap menjadi potensi saja, tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan.&#8221;</p>
<p>Saya sering mendapatkan keluhan dari mahasiswa maupun peserta training bahwa mereka merasa tidak berbakat memimpin. Dalam kesempatan lain mereka menyampaikan lagi bahwa mereka tidak berbakat seni, olah raga, menulis, dan sederetan alasan lainnya untuk menjustifikasi bahwa mereka tidak mampu melakukan hal tertentu karena mereka tidak berbakat. Kata &#8220;tidak berbakat&#8221; nampaknya menjadi kambing hitam yang paling mudah. &#8220;Jangan salahkan aku kalau aku tidak mampu melakukan hal tertentu karena aku tidak berbakat&#8221; demikian kurang lebih pesan yang terkandung dalam pernyataan mereka.</p>
<p>Namun pada saat saya tanyakan kepada yang merasa &#8220;tidak berbakat&#8221; mengenai sudah seberapa jauh mereka belajar, berlatih dan mencoba, mereka mulai mencari-cari alasan berikutnya. Mereka katakan bahwa walaupun belum mencobanya tetapi mereka tahu dan bisa merasakan kalau mereka tidak berbakat. &#8220;Seperti ejakulasi dini saja, belum apa-apa sudah loyo&#8221; demikian saya sering meledek mereka-mereka yang terlampau cepat memvonis dirinya tidak mampu karena tidak berbakat.</p>
<p><span id="more-259"></span>Berkaitan dengan masalah bakat, dalam suatu kesempatan pelatihan kepemimpinan saya memulai dengan pertanyaan &#8220;Apakah Anda percaya bahwa para pemimpin besar memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin? Atau Anda lebih percaya bahwa para pemimpin besar ditempa dalam perjalanan hidupnya sehingga menjadilah ia seorang pemimpin?&#8221; Jawaban yang aman memang ke dua-duanya bisa. Bisa saja kita menjawab dengan enteng bahwa ada seorang pemimpin yang memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin dan ada yang menjadi pemimpin karena dibentuk oleh dirinya sendiri maupun oleh lingkungannya sehingga seseorang menjadi seorang pemimpin. Namun bukan sekedar jawaban tentunya yang kita cari. Kita ingin mendapatkan jawaban yang memiliki landasan pemikiran yang kuat, yang based on evidence, yang berdasarkan bukti! Bisakah kita membuktikan bahwa seseorang memang dilahirkan untuk menjadi pemimpin? Apa buktinya pemimpin itu ditempa dan dibentuk?</p>
<p>Banyak keturunan pemimpin juga menjadi pemimpin. Kalau kita mendengar nama Kennedy, asosiasi kita langsung ke keluarga Kennedy di Amerika Serikat yang turun menurun menjadi pemimpin. Ada George Bush kemudian munculah George W. Bush. Ada Mahatma Gandhi kemudian muncul Indira Gandhi. Ada Sukarno dan kemudian muncullah Megawati Sukarno Putri. Jadi nampaknya di sini sifat-sifat kepemimpinan bisa diturunkan sehingga seorang pemimpin bisa melahirkan pemimpin berikutnya. Benarkah sifat-sifat kempemimpinan bisa diturunkan secara biologis?</p>
<p>Saya tidak akan memperdebatkan masalah ini dari aspek genetika karena memang hal tersebut bukan dalam bidang keahlian saya. Namun demikian saya yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi sendiri-sendiri. Setiap manusia itu unik. Tidak ada yang sama persis. Meskipun seorang manusia dilahirkan seperti halnya kertas putih bersih yang belum tercoret, mereka dianugrahi potensi yang berbeda antara satu dengan lain. Saya termasuk yang tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Oleh karenanya saya katakan berulang kali bahwa manusia memiliki potensi yang unik antara satu orang dengan lainnya.</p>
<p>Seorang anak yang lahir dari pasangan yang cerdas memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk memiliki potensi kecerdasan seperti halnya orang tuanya. Ini logika yang wajar saja. Buah akan akan jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau bakat dan sifat orang tuanya menurun kepada anaknya itu tentunya sudah sewajarnya. Namun ingat, yang diturunkan kepada anaknya masih bersifat potensi. Potensi itu akan tetap diam tidak akan menjadi realitas kalau tidak diwujudkan dalam tindakan. Seorang anak yang berpotensi menjadi pelari cepat tidak akan menjadi pelari cepat kalau ia tidak mencoba berlari. Seorang anak yang memiliki potensi memimpin tidak akan pernah benar-benar menjadi pemimpin kalau tidak melakukan tindakan sebagai seorang pemimpin. Seorang anak yang memiliki bakat menulis tidak akan pernah menjadi penulis apabila ia tidak menulis. Potensi yang mereka miliki bukan apa-apa apabila tidak diwujudkan dalam suatu tindakan. Sebuah senapan tidak akan meletus apabila tidak ditarik pelatuknya. Kalau demikian, dari pada meributkan seorang pemimpin itu dilahirkan atau tidak lebih baik kita langsung saja mengambil tindakan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal ini lebih efektif dari pada kita disibukkan untuk memikirkan apakah kita berbakat untuk menjadi pemimpin atau tidak.</p>
<p>Kalau kita bicara tentang bakat, harus diakui bahwa orang yang memilki bakat tertentu akan belajar lebih cepat dari pada yang kurang berbakat. Seseorang yang memiliki bakat seni musik akan lebih cepat belajar musik dari pada yang tidak atau kurang berbakat dalam hal seni. Namun perlu dicatat di sini bahwa orang yang berbakat seni tetapi tidak mau belajar seni tidak akan memiliki kemampuan seni. Mengapa? Karena bakat itu hanya berupa potensi. Kalau potensi tersebut tidak diledakkan ya akan tetap menjadi potensi saja. Tidak akan terwujud sebagai kemampuan untuk melakukan tindakan. Dengan kata lain, seorang yang tidak memiliki bakat musik tetap bisa memiliki kemampuan di bidang musik apabila mereka mau belajar. Konotasi belajar di sini tidak berarti belajar dalam arti formal maupun informal, tetapi juga belajar dalam arti mencoba melakukan (experiental learning). Maka jangan pernah memvonis diri sendiri tidak berbakat dalam suatu bidang tertentu sebelum mencobanya. Sampai di sini kita masih memiliki kesimpulan yang sama bahwa seberapa besarpun bakat kita tidak akan menjadi kemampuan yang sebenarnya kalau kita tidak pernah mencobanya. Dengan kata lain, dari pada sibuk memikirkan bakat kita lebih baik kita sibuk melatih diri kita untuk menjadi seperti apa yang kita harapkan.</p>
<p>Saat kita merasa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan sesuatu, hal tersebut bukan selalu karena bakat. Bahkan beberapa pakar menyatakan bahwa kemampuan yang kita miliki hanya 15% yang berasal dari bakat. Selebihnya, yaitu 85%, berasal dari belajar, latihan, dan mencoba. Dengan demikian, kalau kita belajar dengan benar, melatih diri dengan benar, dan mencoba dengan benar maka kita akan menghasilkan kemampuan yang jauh lebih besar dari pada mengandalkan hanya pada faktor bakat saja.</p>
<p>Mau memiliki kemampuan yang hebat? Keep trying, keep doing! Ledakkan potensi Anda.</p>
<p>*) Agung Praptapa adalah penulis buku &#8220;The Art of Controlling People&#8221;, Gramedia, 2009. Ia seorang dosen, konsultan bisnis, dan trainer di bidang personal and organizational development. Alumni Writer Schoolen dan Trainer Schoolen.</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=259&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2010%2F03%2F17%2Fbakat-vs-usaha%2F&amp;title=Bakat%20Vs%20Usaha" id="wpa2a_6"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2010/03/17/bakat-vs-usaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Ada Harapan</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2009/01/22/masih-ada-harapan/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2009/01/22/masih-ada-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 04:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2009/01/22/masih-ada-harapan/</guid>
		<description><![CDATA[Di Brooklyn, New York, Cush adalah sebuah sekolah luar biasa bagi anak-anak cacat. Beberapa anak tetap tinggal di Cush selama masa sekolahnya. Sedangkan yang lain diperbolehkan melanjutkan ke sekolah biasa. Pada suatu malam pengumpulan dana, salah seorang ayah yang anaknya bersekolah di Cush memberikan pidato yang tak terlupakan oleh para hadirin. Setelah memuji sekolah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Di Brooklyn, New York, Cush adalah sebuah sekolah luar biasa bagi anak-anak cacat. Beberapa anak tetap tinggal di Cush selama masa sekolahnya. Sedangkan yang lain diperbolehkan melanjutkan ke sekolah biasa.</p>
<p>Pada suatu malam pengumpulan dana, salah seorang ayah yang anaknya bersekolah di Cush memberikan pidato yang tak terlupakan oleh para hadirin.</p>
<p>Setelah memuji sekolah dan para staff yang telah menunjukkan dedikasinya yang tinggi, ia menangis, &#8220;Dimanakah kesempurnaan diri anak saya, Shay ?<br />
Bukankah semua yang Tuhan ciptakan adalah sempurna ? Tetapi mengapa anak saya tidak bisa mengerti sebagaimana anak-anak lain ? Mengapa anak saya tidak bisa mengingat angka dan gambar sebagaimana anak-anak lain ? Dimanakah kesempurnaan Tuhan ?&#8221;</p>
<p><span id="more-40"></span>Para hadirin amat terkejut, tersentuh dengan kesedihan si ayah dan terdiam oleh pertanyaan itu.</p>
<p>&#8220;Saya percaya,&#8221; jawab si ayah, &#8220;bahwa ketika Tuhan melahirkan seorang anak seperti anak saya ke dunia ini, kesempurnaan yang dicarinya terletak pada bagaimana perlakuan orang-orang lain terhadap anak itu&#8221;. Kemudian ia menceritakan kisah berikut ini mengenai anaknya, Shay.</p>
<p>Suatu sore, Shay dan ayahnya berjalan-jalan melintasi taman dimana beberapa anak lelaki yang Shay kenal sedang bermain Baseball. Shay memohon pada ayahnya, &#8220;Yah, menurut ayah, apakah mereka membolehkan saya ikut bermain ?&#8221;</p>
<p>Ayah Shay mengerti bahwa anaknya tidak memiliki kemampuan atletik dan pasti semua anak lelaki takkan mengijinkan bermain dalam tim mereka. Tetapi, ayah Shay mengerti juga bahwa jika anaknya bisa ikut bermain maka Shay akan merasakan kebahagiaan bisa turut memiliki. Kemudian, ayah Shay mendekati seorang anak lelaki yang ada di lapangan itu dan bertanya kalau-kalau Shay boleh ikut bermain. Anak lelaki itu melihat ke sekeliling meminta pertimbangan dari rekan-rekan lainnya. Karena tak ada yang memberikan pertimbangan, ia memutuskan sendiri dan katanya, &#8220;Kami sedang kalah enam angka, sedangkan pertandingan ini berlangsung sembilan inning. Saya pikir anak anda bisa bergabung dalam tim. Kmai akan menempatkannya sebagai pemukul di inning ke sembilan.&#8221;</p>
<p>Ayah Shay amat senang. Shay pun tersenyum lebar. Shay diminta untuk mengenakan sarung tangan dan menunggu di barisan tunggu luar lapangan. Di akhir inning ke delapan, tim Shay memperoleh beberapa angka tetapi tetap tertinggal tiga angka dari tim lawan. Kemudian di inning ke sembilan mereka memperoleh angka lagi. Dua orang berhasil berdiri di base dan siap-siap untuk memperoleh kemenangan angka. Kini tiba giliran Shay memukul. Apakah tim Shay akan benar-benar memasukkan Shay sebagai pemukul berikutnya dan mengambil resiko untuk kemenangan mereka yang sudah berada di dalam genggaman ?</p>
<p>Amat mengejutkan, Shay diijinkan untuk memukul. Semua orang tahu bahwa hal itu hampir-hampir mustahil karena Shay sama sekali tidak tahu bagaimana memegang tongkat pemukul baseball. Bagaimana pun Shay maju ke papan pemukul, pitcher bergerak beberapa langkah dan melemparkan bola itu perlahan ke arah Shay sehingga memungkinkan Shay untuk menyentuh bola itu.</p>
<p>Lemparan pertama dilakukan. Shay memukul tanpa arah dan gagal. Salah seorang teman Shay mendekati dan bersama-sama mereka memegang pemukul itu dan menghadapi sang pitcher yang sudah bersiap-siap untuk meleparkan bola kedua.<br />
Sekali lagi si pitcher maju beberapa langkah dan melemparkan bola itu dengan perlahan sekali ke arah Shay.</p>
<p>Ketika bola dilemparkan, Shay dan rekannya yang membantu memegangi tongkat pemukul itu akhirnya bisa memukul bola itu perlahan sekali ke arah pitcher.<br />
Sang pitcher menangkap bola yang menggelinding di tanah dengan perlahan. Ia harus melemparkan bola itu ke penjaga di base pertama. Dengan demikian Shay bisa saja gagal mencapai base pertama, keluar dari pertandingan dan timnya pasti menderita kekalahan.</p>
<p>Tapi apa yang terjadi ? Si Pitcher melemparkan bola itu ke kanan jauh ke atas melewati kepala penjaga base pertama sehingga tak terjangkau. Semua orang lalu berteriak-teriak, &#8220;Shay, ayo lari ke base pertama. Lari ke base pertama&#8221;.</p>
<p>Belum pernah selama hidupnya Shay lari ke base pertama. Ia tergesa-gesa lari ke base pertama, bola matanya berbinar-binar. Ketika ia tiba di base pertama, penjaga base di sebelah kanan memungut bola. Ia bisa saja melemparkan bola itu ke penjaga base kedua yang akan mengalahkan Shay, tetapi ia melempar bola itu jauh ke atas kepala sehingga tak tertangkap oleh penjaga base kedua.</p>
<p>Lalu semua orang berteriak, &#8220;Shay, ayo lari ke base kedua, ayo lari ke base kedua.&#8221; Shay lari ke base kedua. Begitu itu tiba di base kedua, penjaga tim lawan melempar bola jauh ke atas sehingga tak terjangkau oleh penjaga base ke tiga. Lalu mereka semua berteriak agar Shay lari ke base ketiga. Ketika Shay menyentuh base ketiga, semua anak di kedua tim yang sedang saling berlawanan itu berteriak, &#8220;Ayo Shay, lari sampai akhir base. Lari sampai akhir base !&#8221; Maka Shay pun berlari sampai ke akhir base, menginjak papan base terakhir. Serentak ke delapan belas anak yang sedang bermain itu memeluk dan mengangkat Shay di atas pundak dan membuatnya seperti pahlawan kemenangan untuk timnya.</p>
<p>&#8220;Pada hari itu,&#8221; kata ayah Shay dengan lembut, mata yang berkaca-kaca kini tak tahan meneteskan air mata, &#8220;kedelapan belas anak lelaki itu telah menemukan kesempurnaan Tuhan&#8221;.</p>
<p>Raihlah kesempurnaan itu!</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=40&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2009%2F01%2F22%2Fmasih-ada-harapan%2F&amp;title=Masih%20Ada%20Harapan" id="wpa2a_8"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2009/01/22/masih-ada-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goal Seeker vs Goal Getter</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2009/01/11/goal-seeker-vs-goal-getter/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2009/01/11/goal-seeker-vs-goal-getter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 16:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2009/01/11/goal-seeker-vs-goal-getter/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive.&#8221;-Robert H. Schuller Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai menentukan kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin akan diwujudkan dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah kita bisa bedakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>&#8220;Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive.&#8221;-Robert H. Schuller</p>
<p>Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai menentukan kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin akan diwujudkan dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah kita bisa bedakan dua tipe orang.</p>
<p>Orang yang pertama kita kategorikan sebagai goal seeker, dan kedua kita sebut goal getter. Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu terus-menerus mencari goal. Goal getter adalah tipe orang yang selalu berusaha mewujudkan goal yang telah dicanangkannya. Semuanya memang berawal dan dimulai dari sebuah proses yang namanya goal.</p>
<p><span id="more-38"></span>Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan spesifik dalam hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan membuat suatu tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih dalam hidup ini. Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker.</p>
<p>Goal seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara merenungkan goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang telah berhasil dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi juga untuk mencapai goal yang sama bahkan lebih.</p>
<p>Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana goal memiliki peranan yang penting dalam kehidupan mereka. Bahkan fisikawan Albert Einstein pun mengatakan, &#8220;If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things.&#8221;</p>
<p>Ya, untuk menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus mengikatkannya dengan sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan tidaklah boleh berhenti hanya pada tataran membuat goal saja. Itulah yang banyak dialami oleh orang yang hidupnya mandek.</p>
<p>Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan diraihnya, berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam proses menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati banyak rintangan dan hambatan. Di sinilah godaannya. Sering terjadi, para goal seeker jadi frustrasi, menyerah bahkan akhirnya menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari goal yang baru, dan mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah diusahakan sama sekali.</p>
<p>Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not productive!).</p>
<p>Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan &#8220;You must take action now that will move you towards your goals. Develop a sense of urgency in your life.&#8221;</p>
<p>Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter. Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun terus sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan transisi menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada bermimpi saja.</p>
<p><strong>Jadi manusia langka</strong></p>
<p>Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi sedikit sekali yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari manusia-manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi ilusi semata,  melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone, salah satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari mimpi-mimpi yang direalisasikannya sejak kecil. Bahkan, dengan beraninya, untuk<br />
mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia nekat menjual koran di restoran.</p>
<p>Tahukah Anda, pada masa itu, menjual koran di restoran adalah hal yang tabu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dengan sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif, akhirnya diceritakan bagaimana William meluluhkan hati para pemilik restoran untuk pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual koran di restoran mereka.</p>
<p>Para pemilik restoran ini sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini akan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis asuransi terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku tentang mental positif.</p>
<p>Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia berkata, &#8220;To solve a problem or to reach a goal, you don&#8217;t need to know all the answers in advance. But you must have a clear idea of the problem or the goal you want to reach.&#8221; Dengan kata lain, William mengingatkan para goal getter mereka perlu memiliki kejelasan yang sangat jelas, spesifik dan detail tentang goal yang mau diraihnya.</p>
<p>Semakin spesifik dan semakin detail goal yang mau diraih bagi seorang goal getter, semakin jelas dan memudahkan bagi seorang goal getter untuk meraih goal yang telah ditentukannya saat mengalami transformasi dari goal seeker menjadi seorang goal getter.</p>
<p>Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, &#8220;A goal properly set is halfway reached.&#8221; Saat goal sudah ditentukan, perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter hanya tinggal setengah perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan-perencanaan dan tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang goal getter.</p>
<p>Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan, hal terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum. Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu<br />
besar ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya membawanya semakin dekat pada tujuannya.</p>
<p>Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai termotivasi untuk segera mewujudkan goal itu. Benarlah sebuah kalimat bijak yang dikatakan oleh motivator nomor satu dunia, Anthony Robbins. &#8220;The<br />
most important thing you can do to achieve your goals is to make sure that as soon as you set them, you immediately begin to create momentum. &#8221;</p>
<p>Dalam rangka menciptakan momentum ini, biasanya hambatan yang paling sering dialami oleh seorang goal seeker adalah dalih (excuse) bahwa mereka membutuhkan dan mencari &#8216;timing&#8217; atau waktu yang tepat.</p>
<p>Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Waktu yang paling tepat itu sebenarnya sekarang. Marilah kita simak tip yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich<br />
yang mengatakan, &#8220;Don&#8217;t wait. The time will never be just right.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang. Janganlah bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani mengambil langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat dengan goal kita.</p>
<p>Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi seorang goal getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk merealisasikan goal. Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana<br />
membangun bisnis media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun dia masih terus mencita-citakannya.</p>
<p>Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada di penantiannya. Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai saat ini jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang selalu<br />
terus-menerus membuat goal. Jadikan 2009 menjadi tahun yang spektakuler bagi Anda, bukan hanya karena banyaknya jumlah impian Anda melainkan juga karena banyak impian Anda yang bisa terwujud!</p>
<blockquote><p><em>Sumber: Goal Seeker vs Goal Getter oleh Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency</em></p></blockquote>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=38&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2009%2F01%2F11%2Fgoal-seeker-vs-goal-getter%2F&amp;title=Goal%20Seeker%20vs%20Goal%20Getter" id="wpa2a_10"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2009/01/11/goal-seeker-vs-goal-getter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Kung Fu Panda</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/12/12/pelajaran-dari-kung-fu-panda/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/12/12/pelajaran-dari-kung-fu-panda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 08:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/12/12/pelajaran-dari-kung-fu-panda/</guid>
		<description><![CDATA[Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung. Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal: 1. The secret to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Po, si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar</p>
<p>Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti-nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.</p>
<p>Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:</p>
<p>1. The secret to be special is you have to believe you&#8217;re special.<br />
Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial.</p>
<p>Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.<br />
Seperti kata Master Oogway, You just need to believe</p>
<p>2. Teruslah kejar impianmu.<br />
<span id="more-33"></span>Po, panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah,<br />
makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.</p>
<p>3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.</p>
<p>Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu<br />
diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.</p>
<p>Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya<br />
masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.</p>
<p>4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.</p>
<p>Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.</p>
<p>Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.</p>
<p>5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa<br />
membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.</p>
<p>Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.</p>
<p>Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah<br />
yang keliru.</p>
<p>6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.</p>
<p>Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.</p>
<p>7. Keluarga sangatlah penting.<br />
Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota<br />
keluarga kita?</p>
<p>God Bless You!</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=33&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2008%2F12%2F12%2Fpelajaran-dari-kung-fu-panda%2F&amp;title=Pelajaran%20dari%20Kung%20Fu%20Panda" id="wpa2a_12"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/12/12/pelajaran-dari-kung-fu-panda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Sukses dari Matematika Sederhana</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/11/20/belajar-sukses-dari-matematika-sederhana/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/11/20/belajar-sukses-dari-matematika-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 13:29:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/11/20/belajar-sukses-dari-matematika-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dua narapidana melihat ke luar jendela penjara. Satu melihat indahnya bintang-bintang. Satunya lagi melihat lumpur menjijikkan.&#8221; (Anthony de Mello) Masih ingat pelajaran matematika sederhana yang kita pelajari di sekolah dasar. Bisa jadi inilah yang sekarang kita ajarkan pada adik, anak, atau keponakan kita yang masih di TK ataupun SD. Pelajaran yang saya maksudkan adalah operasional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><strong>&#8220;Dua narapidana melihat ke luar jendela penjara. Satu melihat indahnya bintang-bintang. Satunya lagi melihat lumpur menjijikkan.&#8221;<br />
(Anthony de Mello)</strong></p>
<p>Masih ingat pelajaran matematika sederhana yang kita pelajari di sekolah dasar. Bisa jadi inilah yang sekarang kita ajarkan pada adik, anak, atau keponakan kita yang masih di TK ataupun SD.<br />
Pelajaran yang saya maksudkan adalah operasional hitung, penjumlahan, dan pengurangan.</p>
<p>Ingatlah kembali pelajaran operasional hitung &#8220;tambah&#8221; dan &#8220;kurang&#8221; tersebut. Apakah yang bisa kita pelajari dan apa hubungannya dengan kesuksesan hidup kita. Jawabannya pun sederhana.</p>
<p><span id="more-31"></span>Perhatikan, bentuk operasi hitung &#8220;penjumlahan&#8221; atau simbol &#8220;tambah&#8221; yang kita letakkan di setiap angka. Bagaimanakah hasil akhirnya?</p>
<p>Hasil akhirnya selalu berubah menjadi angka yang lebih baik atau lebih tinggi nilainya. Jika dijumlahkan dengan angka yang positif, baik angka itu angka plus maupun minus, maka nilainya menjadi lebih baik.</p>
<p>Sebaliknya, jika suatu angka dikurangi atau diberi operasional hitung &#8220;kurang&#8221; maka berapa pun angkanya, akan menjadi lebih kecil nilainya. Anda pasti sudah mengenal sistem operasional hitung ini dengan tanpa perlu bersusah payah. Tapi, apa artinya ini dalam kehidupan sukses kita.</p>
<p>Dalam sukses kita, saya membayangkan di dalam diri setiap orang bisa punya kebiasaan &#8220;mengurangi&#8221; atau kebiasaan &#8220;menjumlah&#8221;, yang saya sebut pribadi &#8220;plus&#8221; atau pribadi &#8220;minus&#8221;. Perhatikanlah perbedaan<br />
yang dihasilkan pribadi plus maupun minus ini. Bagi pribadi &#8220;minus&#8221;, segala kondisi akan menjadi semakin buruk. Bahkan dengan sikapnya, dia membuat situasi atau pun kondisi menjadi bertambah buruk dengan sikapnya. Emosinya serta aura pada dirinya pun cenderung negatif.</p>
<p>Itulah sebabnya dia memperburuk suasana yang ada. Misalkan saja, seorang manager dengan keluarganya sedang menyetir keluar kota untuk liburan. Ketika tepat di pintu bayar tol, mobilnya mogok. Akhirnya,<br />
dengan kesal, si manajer ini keluar dari mobilnya. Sambil marah-marah, dia tendang mobilnya. Keras sekali sehingga kakinya lebam.<br />
Setelah itu, saat ditarik mobil derek untuk diperbaiki, dia marah-marah. Istri dan anak-anaknya pun jadi ikutan &#8216;bete&#8217; lantaran terpengaruh sikap si manajer ini. Akhirnya, liburan pun batal. Padahal mobilnya bisa diperbaiki dengan cepat.</p>
<p>Sementara di sisi lain, ada orang yang mempunyai mentalitas &#8220;plus&#8221; yang bisa membuat kondisi yang ada menjadi lebih baik. Meskipun dia tidak bisa mengubah keadaan 100% menjadi lebih baik namun sikapnya<br />
bisa membuat suasana tidak menjadi semakin lebih buruk.</p>
<p>Misalkan pada contoh si manager yang mobilnya mogok di atas. Dia merasakan jengkelnya tapi dengan cepat bisa berpikir pula, &#8220;Untung juga. Mogoknya pas di pintu bayar tol. Coba kalau pas di luar kota<br />
atau di tengah jalan&#8221;. Akhirnya, dengan mobil derek, mobilnya bisa segera dibawa ke bengkel terdekat. Bisa diperbaiki lalu dengan segera, mereka bisa menikmati liburannya.</p>
<p>Lihat, betapa menyenangkannya kalau kita mempunyai mental &#8220;plus&#8221; ini. Segala sesuatu tidak menjadi bertambah parah atau memburuk. Minimal, sikap semacam ini dengan cepat akan mengembalikan kondisi<br />
yang buruk menjadi normal ke keadaan semula. Dan dengan sikap ini, dia tidak melihat sesuatu dengan emosi-emosi yang negatif seperti marah-marah, kesal, maupun jengkel.</p>
<p>Salah satu contoh ini pernah diperlihatkan oleh Thomas Alva Edison sewaktu menyaksikan laboratorium eksperimennya habis terbakar. Dia menyaksikan api yang masih merah menyala lalu berkata, &#8220;Iya. Ada<br />
gunanya juga semuanya terbakar. Jadi ada kesempatan buat saya untuk memulai lagi semua pemikiran dan ide yang macet, dari awal lagi!&#8221;</p>
<p>Dalam hal ini, Thomas Alva Edison mengajarkan pada kita. Ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi, yakni lab yang terbakar. Namun, dia juga mengajarkan kita bahwa sikap maupun cara kita bertindak bisa<br />
membuat situasi dan keadaan menjadi tidak lebih buruk, malah menjadi lebih baik hasilnya.</p>
<p><strong>Pecundang</strong></p>
<p>Di sisi lain, pelajaran dasar operasional hitung juga mengajarkan kepada kita satu hal yang sederhana. Jika angka berapa pun, tetapi dijumlahkan dengan angka minus maka hasil akhirnya akan menjadi semakin minus. Bayangkanlah hal ini dalam hidup kita di mana kita sering bertemu dan bergaul dengan orang-orang &#8216;pecundang&#8217; dan selalu bermental negatif. Apakah yang terjadi? Lama-kelamaan diri dan<br />
kondisi diri kita juga terpengaruh jadi negatif.</p>
<p>Bayangkanlah seorang salesman yang sebenarnya cukup antusias dan semangat, tetapi setiap pagi dia selalu ngopi dan ngrumpi dengan teman-temannya yang selalu mengajarkan padanya, &#8220;Kondisi lagi<br />
susah&#8221;, &#8220;Gini lho caranya mengambil keuntungan perusahaan buat diri sendiri&#8221;, &#8220;Begini caranya ngobyek di luar dengan fasilitas kantor!&#8221;.<br />
Apa yang akan terjadi kalau selama setahun dia diajarkan seperti itu? Lama-kelamaan mentalnya bisa ikut-ikutan menjadi rusak juga.</p>
<p>Karena itulah, maka operasional hitung juga memberikan tipsnya kepada kita. Caranya? Ingatlah dengan prinsip kalau kita mengurangi bilangan apapun dengan angka-angka yang minus (misalkan: X &#8211; (-Y) )<br />
maka hasilnya akan lebih positif. Apa artinya? Sederhana saja. Kalau kita bisa mengurangkan orang-orang minus dari kehidupan kita, maka kita bisa menciptakan kondisi dan situasi yang lebih positif.</p>
<p>Nah, yang jadi pertanyaan kita adalah siapakah orang-orang yang negatif, berpikir minus dan jelek pengaruhnya dalam kehidupan kita. Kurangilah kesempatan kita berinterkasi ataupun jauhilah orang-orang seperti itu dari kehidupan kita, supaya kita tetap positif menyongsong impian dan cita-cita kita.</p>
<p>Demikianlah. Semoga pelajaran kita dari matematika yang amat sederhana ini membuat kita lebih sadar dan membuat kita semakin sukses dengan impian dan cita-cita kita.</p>
<blockquote><p><em>Sumber: Belajar Sukses dari Matematika Sederhana oleh Anthony Dio Martin</em></p></blockquote>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=31&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2008%2F11%2F20%2Fbelajar-sukses-dari-matematika-sederhana%2F&amp;title=Belajar%20Sukses%20dari%20Matematika%20Sederhana" id="wpa2a_14"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/11/20/belajar-sukses-dari-matematika-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keyakinan</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/09/28/keyakinan/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/09/28/keyakinan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 07:54:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/09/28/keyakinan/</guid>
		<description><![CDATA[Memilih karier dan profesi untuk ditekuni memerlukan suatu belief bahwa pilihan itu memberikan harapan ke arah peningkatan kualitas hidup di masa depan. Sama halnya ketika seorang lulusan sekolah menengah memilih fakultas tertentu untuk melanjutkan studinya di universitas. Belief seseorang itu mengarahkan sikap dan kemudian perilakunya terhadap hal atau objek tertentu. Semua orang, sadar ataupun tidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Memilih karier dan profesi untuk ditekuni memerlukan suatu belief bahwa pilihan itu memberikan harapan ke arah peningkatan kualitas hidup di masa depan. Sama halnya ketika seorang lulusan sekolah menengah memilih fakultas tertentu untuk melanjutkan studinya di universitas. Belief seseorang itu mengarahkan sikap dan kemudian perilakunya terhadap hal atau objek tertentu.</p>
<p>Semua orang, sadar ataupun tidak, memilih karier dan profesi atas dasar belief yang dianutnya. Profesi-profesi favorit di masa lalu ––dokter, insinyur, akuntan, atau lainnya–– diyakini banyak orang akan mampu membuat mereka sejahtera lahir dan batin. Sebaliknya, sebagian pilihan lain seperti wirausaha, wiraniaga, penulis, dan seniman, dianggap kurang dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan<br />
hidup. Semua itu karena belief yang dimilikinya.</p>
<p><span id="more-29"></span> Kata &#8220;belief&#8221; dalam kamus Echols dan Sadhily diterjemahkan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Umumnya hal ini dikaitkan dengan agama(believer), tetapi tidak cuma itu. Sementara Anthony Robbins, dalam bukunya Unlimited Power, menjelaskan bahwa, &#8220;Belief is nothing but a state, an intenal representation that governs behaviors.&#8221; Ia dapat bersifat memberdayakan (empowering belief), tapi juga<br />
dapat `memperlemah&#8217; (disempowering belief). Dan, seorang bernama Robert Danton Jr, pernah menegaskan bahwa, &#8220;Sebuah keyakinan adalah apa yang secara personal kita ketahui atau kita anggap benar, sekalipun orang lain tidak menyetujuinya.<wbr></wbr>&#8221; Hal terakhir ini menunjukkan sifat subjektif dari belief seseorang.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan pilihan karier dan profesi, sebuah keyakinan dapat bersifat memberdayakan bila ia menuntun kita untuk melihat kemungkinan (possibility) untuk dapat berhasil atau mencapai tujuan<br />
tertentu. Sebaliknya, ia juga dapat `memperlemah&#8217; jika kita tidak yakin terhadap kemungkinan bahwa karier dan profesi yang sedang kita tekuni akan membuka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Artinya, bila kita yakin bahwa kita tidak akan bisa berhasil, maka disempowering belief ini membuat kita enggan berusaha lebih serius atau bekerja lebih keras. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa keberhasilan bisa dicapai lewat karier dan profesi yang kita tekuni, maka empowering belief ini akan menjadi semacam sumber energi luar biasa yang membuat kita mampu bertekun dan bekerja keras untuk mencapai apapun tujuan yang telah kita tetapkan dalam hati.</p>
<p>Darimana sebuah keyakinan muncul? Robbins menyebutkan lima sumber,yakni: lingkungan sekitar (environment)<wbr></wbr>, peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita (events), pengetahuan (knowledge), hasil-<br />
hasil masa lalu (our past results), dan creating in your mind of the experience you desire in the future as if it were here now (semacam `visi&#8221; –pen).</p>
<p>Dalam pengertian di atas, sebuah belief ikut membentuk sikap atau attitude, yakni suatu pola berpikir (kognitif) dan pola berperasaan (afektif) yang kemudian dinyatakan dalam perilaku tertentu (behavior). Dan dalam arti yang dijelaskan Robbins bahwa belief memiliki kesamaan pengertian dengan apa yang disebut Stephen Covey, pengarang The 7 Habits of Highly Effective People, sebagai paradigma atau peta mental.</p>
<p>Baik Robbins maupun Covey sepakat bahwa belief atau paradigma yang kita anut/miliki, dapat kita ubah, kita geser, atau kita perbaiki agar lebih berkesesuaian dengan fakta kehidupan (`kebenaran&#8217;<wbr></wbr>). Akan<br />
tetapi hal itu tidaklah mudah dilakukan. Kebanyakan kita enggan atau bahkan takut menerobos batas-batas keyakinan yang kita miliki, apalagi bila keyakinan itu juga dianut oleh sebagian besar orang di lingkungan kita (keluarga, sekolah, masyarakat, dsb).[aha]</p>
<blockquote><p><em> Sumber: Keyakinan oleh Andrias Harefa. Andrias Harefa adalah seorang writer, trainer, speaker.</em><o:p></o:p></p></blockquote>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span width="1"></span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=29&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2008%2F09%2F28%2Fkeyakinan%2F&amp;title=Keyakinan" id="wpa2a_16"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/09/28/keyakinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filosofi Pensil</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/filosofi-pensil/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/filosofi-pensil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 07:41:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/filosofi-pensil/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya&#8221; (Pepatah Jepang) Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapawejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="margin-bottom: 12pt"><strong><em>&#8220;Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil<br />
ada penghapusnya&#8221; (Pepatah Jepang) </em></strong></p>
<p>Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu<br />
dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapawejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan olehsi pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.</p>
<p><span id="more-27"></span> &#8220;Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamugagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akanmembuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi<br />
manusia&#8221;.</p>
<p>&#8220;Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu&#8221;<wbr></wbr>.</p>
<p>&#8220;Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkanitulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat&#8221;.</p>
<p>Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya,dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.</p>
<p>Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini.<br />
Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.</p>
<p>Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.</p>
<p>Hilang arah</p>
<p>Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan &#8220;tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya&#8221;. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwasalah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kitabelajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan.</p>
<p>Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan.<br />
Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia.</p>
<p>Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna danbermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.<br />
Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali.</p>
<p>Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatanataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar danterkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler.</p>
<p>Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut. Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu &#8216;sakit&#8217;. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik.</p>
<p>Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling<br />
tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita. Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti<br />
karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulahyang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita.</p>
<p>Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan<br />
seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita<br />
harus belajar dari pensil untuk &#8216;tunduk&#8217; dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama<br />
dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari &#8216;guru&#8217; yang<br />
lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik.</p>
<p>Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Tugas kita bukankembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri<br />
kita berarti dan berharga. Itulah filosofi &#8216;memberi dan melayani&#8217; yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai olehTuhan.</p>
<p>Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupunhasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perluyang heboh dan spektakuler.</p>
<p><em> Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin</em><o:p></o:p></p>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span width="1"></span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=27&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2008%2F09%2F07%2Ffilosofi-pensil%2F&amp;title=Filosofi%20Pensil" id="wpa2a_18"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/filosofi-pensil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Seorang Ibu</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/05/07/cinta-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/05/07/cinta-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 13:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Siraman Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/05/07/cinta-seorang-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p class="MsoNormal">Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.</p>
<p>Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan:</p>
<p>&#8216;Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.&#8217;</p>
<p><span id="more-14"></span> Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya,sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.</p>
<p>Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, &#8216;Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya.&#8217;</p>
<p>Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman.. Dengan hati hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena<br />
kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.</p>
<p>Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya<br />
dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.</p>
<p>Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.</p>
<p>Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.</p>
<p>Tahukah anda apa yang terjadi?</p>
<p>Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.</p>
<p>Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan, menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.</p>
<p>Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.</p>
<p>Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si anak, ibu akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya&#8230;</p>
<p>Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu, karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini.</p>
<p class="MsoNormal">Sesuatu untuk dijadikan renungan utk kita&#8230; agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.</p>
<blockquote><p> There is a story living in us, that speaks of our place in the world. It is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves.</p></blockquote>
<p class="MsoNormal">
Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan.</p>
<p>Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.</p>
<p>Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.</p>
<p>Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksana.</p>
<p>Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.</p>
<p>Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.</p>
<p class="MsoNormal">Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.</p>
<p class="MsoNormal">Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti.</p>
<p>Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.</p>
<p>Ambillah waktu utk beramal, itu adalah kunci utk menuju surga.</p>
<blockquote><p><strong> Gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali.</strong></p></blockquote>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=14&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.aridarmapala.com%2F2008%2F05%2F07%2Fcinta-seorang-ibu%2F&amp;title=Cinta%20Seorang%20Ibu" id="wpa2a_20"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/05/07/cinta-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

