<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Internet Marketing, Bisnis Internet &#38; Gaya Hidup - Ari Darmapala dot Com &#187; World Beyond</title>
	<atom:link href="http://www.aridarmapala.com/category/world-beyond/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aridarmapala.com</link>
	<description>Lebih Dari Sekedar Internet Marketing</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 08:47:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Habitus Orang Kaya</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/12/10/habitus-orang-kaya/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/12/10/habitus-orang-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 13:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/12/10/habitus-orang-kaya/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia membangun habitus secara perlahan. Dan kemudian habitus itu membentuk nasibnya. – Pandir Karya &#8220;Apakah habitus orang kaya yang paling umum?&#8221; tanya saya kepada sejumlah kawan. &#8220;Mereka super pelit,&#8221; kata Iin. &#8220;Orang kaya yang saya kenal banyak yang sombong,&#8221; jawab Toni. &#8220;Selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat,&#8221; kata Herlina. &#8220;Tidak suka berhutang,&#8221; ujar Didi. &#8220;Suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><blockquote><p>Manusia membangun habitus secara perlahan. Dan kemudian habitus itu membentuk nasibnya.<br />
– Pandir Karya &#8220;Apakah habitus orang kaya yang paling umum?&#8221; tanya saya kepada sejumlah kawan.<br />
&#8220;Mereka super pelit,&#8221; kata Iin.<br />
&#8220;Orang kaya yang saya kenal banyak yang sombong,&#8221; jawab Toni.<br />
&#8220;Selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat,&#8221; kata Herlina.<br />
&#8220;Tidak suka berhutang,&#8221; ujar Didi.<br />
&#8220;Suka menawar harga barang yang ingin dibelinya,&#8221; jelas Diah.<br />
&#8220;Mereka suka memamerkan kekayaannya,&#8221; kata Rudy.<br />
&#8220;Cenderung serakah dan asosial,&#8221; gagas Yuyun.<br />
&#8220;Hanya membeli barang-barang bermerek terkenal,&#8221; ujar Lilik.<br />
&#8220;Hidup hemat, cenderung pelit, dan tidak suka menunjukkan kemampuan<br />
mereka yang sebenarnya,&#8221; papar Dewi.<br />
&#8220;Suka bangun siang dan tidur dini hari,&#8221; kata Indra.</p>
<p>***</p></blockquote>
<p>&#8220;Habitus (Latin) bisa berarti kebiasaan, tata pembawaan, atau penampilan diri, yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, semacam pembadanan dari kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau berinteraksi dalam kondisi suatu masyarakat… bersifat spontan, tidak disadari pelakunya apakah itu terpuji atau tercela, seperti orang tak sadar akan bau mulutnya.<br />
Ia bisa menunjuk seseorang, tapi juga kelompok sosial,&#8221; demikian antara lain penjelasan B. Herry-Priyono (Kompas, 31 Desember 2005).</p>
<p>Perhatikan bahwa habitus &#8220;&#8230;telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging&#8221;, &#8220;bersifat spontan&#8221;, &#8220;tidak disadari pelakunya&#8221;, dan bisa menunjuk kepada &#8220;kelompok sosial&#8221; tertentu. Nah, dengan pemahaman ini, mari kita coba pikirkan, apa sajakah habitus kelompok sosial ekonomi atas (baca: orang-orang kaya dan super kaya) yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, bersifat<br />
spontan, dan tidak disadari pelakunya (baca: bersifat reflek)?</p>
<p><span id="more-32"></span>Dari studi literatur tentang kecenderungan perilaku orang-orang kaya di Amerika dan Asia, serta dari pengamatan pribadi mengenai perilaku sejumlah kawan yang kaya di Indonesia, sekurang-kurangnya bisa<br />
disebutkan beberapa habitus yang saling kait mengait satu sama lain sebegai berikut.</p>
<p>Habitus pertama, dan boleh jadi ini yang terpenting, mereka menikmati hidup dengan standar jauh dibawah kemampuan mereka yang sebenarnya. Artinya, secara keuangan mereka lebih kuat dari apa yang nampak oleh mata lingkungannya. Mereka lebih kaya dari apa yang mungkin dipikirkan orang lain di sekitar mereka (tetangganya). Bila mereka sesungguhnya mampu membeli rumah seharga Rp 10 miliar, maka mereka<br />
senang memilih rumah seharga Rp 1 miliar. Jika mereka mampu membeli mobil seharga Rp 2 miliar, mereka senang memilih mobil seharga Rp 600 juta saja. Sekalipun mereka lebih dari mampu membeli barang-barang yang dipajang di butik-butik eksklusif atau pertokoan mewah macam Sogo Departemen Store, mereka tidak sungkan untuk berbelanja di pusat belanja grosir seperti di ITC Mangga Dua.</p>
<p>Seorang kawan yang saya duga memiliki harta kekayaan bersih lebih dari Rp 20 miliar dan tinggal di kawasan Karawaci, Tangerang, pernah mengatakan kepada saja bahwa, &#8220;Saya menganut pandangan bahwa apapun yang kita gunakan dan nampak oleh orang lain seharusnya tidak lebih dari sepertiga kekuatan kita yang sesungguhnya. Dan kalau saya bisa menggunakan sepertigapuluh atau bahkan sepertigaratus dari kemampuan finansial saya untuk hidup nyaman, itu sudah cukup. Saya tidak suka dikenal terutama sebagai orang kaya. Saya lebih suka dikenal sebagai orang yang berkarya&#8221;. Pernyataan ini dengan tegas menunjukkan bahwa ia menikmati hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya.</p>
<p>Karena terbiasa hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya, maka mereka—orang-orang kaya tersebut—selalu memastikan bahwa biaya konsumsi mereka jauh dibawah penghasilan rutin yang mereka peroleh.</p>
<p>Itulah habitus kedua. Jika mereka memperoleh penghasilan rutin (katakan saja) Rp 30-40 juta per bulan, maka mereka telah membiasakan diri untuk hanya menggunakan sekitar Rp 10-15 juta per bulan untuk<br />
memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya. Dan ketika penghasilan mereka meningkat menjadi Rp 60-70 juta per bulan pun, mereka tidak merasa perlu untuk mengubah pola konsumsi mereka. Dalam hal ini yang<br />
meningkat secara langsung adalah jumlah tabungan untuk investasi, karena biaya konsumsi relatif tetap.</p>
<p>Habitus yang ketiga adalah kebiasaan menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi dulu, dan menyisakan yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap bulannya. Jadi bukannya menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan kalau akhir bulan masih tersisa baru ditabung dan diinvestasikan. Dengan kata lain, mereka terbiasa untuk mencurahkan cukup banyak waktu untuk memikirkan soal kemana dan bagaimana uang mereka ditabung dan diinvestasikan agar berkembang lebih maksimal.<br />
Mereka tidak memberikan banyak waktu untuk memikirkan cara-cara menggunakan uang secara konsumtif, untuk berbelanja berlama-lama di pusat-pusat pembelanjaan. Sebaliknya, mereka memberikan banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat harta mereka menjadi makin produktif, tumbuh dan berkembang, sehingga mereka menjadi mapan secara keuangan.</p>
<p>Setiap kali saya mengingat sejumlah perbincangan ketika berkesempatan mewawancarai atau sekadar mendengarkan nasihat orang-orang seperti Mochtar Ryadi, Ir. Ciputra, Bob Sadino, Jonathan L. Parapak, dan Soen Siregar, saya merasakan bagaimana ketiga habitus yang disebut di atas telah terpatri menjadi bagian dari tarikan nafas orang-orang tersebut. Tentu saja masih banyak lagi habitus orang-orang yang mapan secara finansial itu. Namun tiga yang telah dipaparkan di atas adalah habitus yang paling umum.</p>
<p>Karena itu saya bisa memastikan bahwa kawan-kawan saya yang lebih suka menampilkan gaya hidup seperti orang kaya, membiasakan diri untuk berbelanja lebih dulu dan menabung belakangan, serta senang<br />
menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan barang-barang konsumsi (gonta ganti mobil baru tiap 1-2 tahun sekali, mengenakan pakaian-pakaian bermerek yang dibeli secara kredit, makan minum di tempat-<br />
tempat mahal, dan sebagainya), pastilah tidak akan pernah menjadi orang yang mapan secara keuangan. Orang muda yang suka foya-foya, hampir pasti akan hidup susah di usia senja. Sepasti matahari tenggelam di ufuk barat.</p>
<p>Kalau tak percaya, silahkan mencoba dan rasakan akibatnya!</p>
<blockquote><p><em>Sumber: Habitus Orang Kaya oleh Andrias Harefa, Pembelajar Mindset Transformation, Certified Trainer and Therapist, Penulis 30 Buku Laris</em></p></blockquote>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=32&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/12/10/habitus-orang-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/10/28/cukupkan-diri-jangan-berlebihan/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/10/28/cukupkan-diri-jangan-berlebihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 18:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/10/28/cukupkan-diri-jangan-berlebihan/</guid>
		<description><![CDATA[Para ahli ekonomi dan keuangan sepakat, akar meledaknya busa sabun moneter di Amerika Serikat adalah ketamakan akan uang. Kredit perumahan yang awalnya baik karena didasarkan pada kreditor prima menjadi awal terbentuknya gelembung hampa spekulasi. Uang memperanakkan uang, menjauh dari yang riil, menggelembung menebarkan janji memikat. Ketika pecah, kehampaan siap menyeret dunia ke jurang kekosongan. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="margin-bottom: 12pt">Para ahli ekonomi dan keuangan sepakat, akar meledaknya busa sabun moneter di Amerika Serikat adalah ketamakan akan uang. Kredit perumahan yang awalnya baik karena didasarkan pada kreditor prima<br />
menjadi awal terbentuknya gelembung hampa spekulasi.</p>
<p>Uang memperanakkan uang, menjauh dari yang riil, menggelembung menebarkan janji memikat. Ketika pecah, kehampaan siap menyeret dunia ke jurang kekosongan. Di balik itu, ketamakan akan uang adalah<br />
penyebab utama.</p>
<p>Bagaimana menyikapi ketamakan? Sokrates, pemikir Yunani abad ke-5 SM, bapak segala filsafat, mengatakan, kenalilah dirimu sendiri dan jangan berlebih-lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia tahu jati dirinya adalah jiwanya (bukan hartanya). Bila jiwa diakui sebagai yang terpenting dari manusia, dan diberikan prioritas, maka terhadap segala sesuatu, diri sejati itu akan mengatakan, jangan<br />
berlebihan, cukupkan dirimu.</p>
<p><span id="more-30"></span><strong>Utama sama dengan sukses</strong></p>
<p>Maksim ini terlalu moralistik? Pada titik tertentu iya, meski &#8220;moral&#8221; di sini harus dimaknai bukan dalam arti baik dan jahat. Bagi Sokrates, keutamaan (arete) tidak pertama-tama judgement moralistik. Keutamaan adalah excellency, kinerja optimal sesuatu, atau katakanlah kesuksesan.</p>
<p>Penting ditekankan, keutamaan dalam filsafat Yunani belum ditunggangi pemahaman modern tentang moral dan agama. Keutamaan adalah optimalnya inti kemanusiaan, tidak lebih dan tidak kurang.<br />
Penjelasan ini urgen karena masyarakat modern justru lebih concern secara instingtif pada kesuksesan hidup daripada kepada moral atau agama! Inilah ironi kita: di mulut berteriak &#8220;moral dan agama mesti<br />
ditegakkan&#8221;, tetapi setiap hari yang diupayakan hanya kesuksesan hidup. Maka, tanpa meminggirkan pentingnya moral dan agama, mari kita tilik makna kesuksesan hidup tawaran pemikir Yunani 25 abad<br />
yang lampau.</p>
<p>Bagi Sokrates, keutamaan pisau adalah mengiris. Pisau bersifat optimal kalau mampu mengiris. Tumpul, pisau tidak excellent, tidak sukses. Bagaimana dengan manusia? Keutamaan manusia ada pada jiwanya. Manusia optimal, sukses adalah manusia yang hidup dengan memprioritaskan jiwanya. Inilah bagian pertama maksim, &#8220;kenalilah dirimu sendiri&#8221;. Kita hanya menjadi manusia sukses sejauh mengakui<br />
bahwa jiwa adalah orientasi hidup kita, bukan harta benda.</p>
<p>Seperti makan, minuman, dan seks, uang adalah sesuatu yang kita nafsui secara tak terbatas. Nafsu (epithumia) makan memasukkan kita dalam lingkaran lapar-makan-<wbr></wbr>kenyang-lapar lagi dan seterusnya.<br />
Demikian juga seks dan uang. Nafsu digambarkan murid Sokrates (Platon) sebagai gentong bocor: seberapa pun air dimasukkan, selalu minta diisi.</p>
<p>Sokratisme tidak membuang makan, minum, seks, dan uang. Itu semua berguna bagi hidup manusia. Namun, justru karena bersifat utilitarian, ia tidak pernah menjadi tujuan dalam diri sendiri.<br />
Hidup manusia terarah pada sesuatu yang lain: jiwanya.</p>
<p>Dan persis pada jiwanya inilah nafsu terdapat! Selain nafsu-nafsu itu, Platon membuat kita sadar, jiwa juga memiliki rasa bangga diri, hormat diri (thumos). Harga diri ambisinya juga tak terbatas, ia bisa membuat manusia lupa segalanya. Harga diri bisa membuat orang nekat.</p>
<p>Survival yang menjadi tugas penting nafsu bisa diluluhlantakkan oleh harga diri. Harga diri, yang berguna bagi pemaknaan hidup, bisa membuat manusia menghancurkan diri, sesuatu yang tidak pernah dianjurkan Sokrates dan Platon.</p>
<p><strong>Rasio manusia</strong></p>
<p>Tahu bahwa diri sejati adalah jiwanya, tahu bahwa jiwanya memiliki nafsu dan harga diri, maka pentinglah unsur-unsur itu diberi tahuagar &#8220;jangan berlebih-lebihan&#8221;<wbr></wbr>. Makan boleh, mencari uang boleh, tetapi jangan berlebih-lebihan. Merasa bangga, berani menentang arus juga boleh, tetapi &#8220;secukupnya&#8221; saja.</p>
<p>Apa arti secukupnya? Minimalis? Siapa yang bisa mengatakan &#8220;sudah cukup&#8221; atau belum? Jawabannya ada di jiwa. Selain nafsu dan harga diri, jiwa kita memiliki rasio. Akal budi akan mengatakan kepada nafsu dan harga diri yang tak terbatas untuk &#8220;cukup, tahu batas&#8221;.</p>
<p>Bagaimana rasio bisa melakukannya? Tidak ada resep yang mudah. Manusia yang tidak melatih mengendalikan nafsu dan harga diri terbiasa menidurkan rasio sehingga ia tak mampu mengatakan &#8220;cukup&#8221;.<br />
Rasio hanya bisa mengatakan &#8220;cukup&#8221; manakala ia terbiasa bernegosiasi dengan mereka. Inilah filsuf, pencinta kebijaksanaan.<br />
Lalu, bagaimana? Tiap orang harus memilih, lingkaran yang memerosokkan atau lingkaran yang membawa ke kebaikan. Pilihan terakhir membuat orang hidup berkeutamaan atau sukses. Manusia sukses adalah dia yang memilih memprioritaskan rasionya untuk mengendalikan ketamakan tanpa batas yang konstitutif di dalam jiwanya.</p>
<p><strong>Belajar bijaksana</strong></p>
<p>Berhadapan dengan ketamakan kapitalisme modern, kita berhadapan dengan tembok paradoksal. Kapitalisme terbiasa hidup tanpa pengendalian diri sehingga dari dirinya sendiri tidak bisa mengatakan &#8220;cukup&#8221;. Harus ada pihak luar yang mengatakannya. Syukurlah, otoritas negara berani mengatakan &#8220;cukup&#8221;. Semoga kapitalisme mau belajar. Sebuah harapan paradoksal karena memasukkan &#8220;kendali negara&#8221; dalam sistem kapitalisme dianggap bunuh diri &#8220;isme&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Atau, sudah saatnya belajar bijaksana? Waspada dengan kredo kita tentang kapitalisme? Mengapa pebisnis dan penanggung jawab ekonomi negeri ini seakan lalai sila &#8220;keadilan sosial&#8221;, horizon ultima sistem ekonomi bangsa?</p>
<p>Semoga kita tidak mudah percaya begitu saja hanya karena suatu ajaran tampak canggih dan dari negeri hebat, semoga kita lebih mengenali &#8220;diri kita sendiri&#8221; sehingga hidup bersama di republik ini memiliki makna dan penuh sukses.</p>
<p>Menjadi manusia utama, yang sukses hidupnya, adalah harapan kita semua. Syukur-syukur ditambahi agamais dan moralis. Namun, en deça (lebih di bawah lagi) dari sikap itu, keutamaan dalam arti rasional<br />
dari Sokrates adalah apa yang kita butuhkan saat ini.</p>
<blockquote><p><em>Sumber: Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan oleh A Setyo Wibowo, Pengajar di STF Driyarkara Jakarta; Alumnus Universitas Paris-I, Sorbonne, Perancis</em><o:p></o:p></p></blockquote>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span width="1"></span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=30&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/10/28/cukupkan-diri-jangan-berlebihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/kartu-kredit-dibenci-dan-dicinta/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/kartu-kredit-dibenci-dan-dicinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 10:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/kartu-kredit-dibenci-dan-dicinta/</guid>
		<description><![CDATA[Ausubel dalam artikelnya The Failure of Competition in the Credit Card Market (1991) mengelompokkan pengguna kartu kredit dalam tiga kelompok besar yaitu hampir tidak berisiko, berisiko kecil, dan berisiko besar. Berbeda dengan Ausubel, berdasarkan observasi saya,ada enam persepsi berbeda di masyarakat kita terhadap kartu kredit. Karena kekurangpahaman mengenai produk perbankan ini dan minimnya  self control, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="margin-bottom: 12pt">Ausubel dalam artikelnya The Failure of Competition in the Credit Card Market (1991) mengelompokkan pengguna kartu kredit dalam tiga kelompok besar yaitu hampir tidak berisiko, berisiko kecil, dan<br />
berisiko besar. Berbeda dengan Ausubel, berdasarkan observasi saya,ada enam persepsi berbeda di masyarakat kita terhadap kartu kredit.</p>
<p>Karena kekurangpahaman mengenai produk perbankan ini dan minimnya  self control, tidak jarang persepsi salah yang justru berkembang. Berikut pengelompokan persepsi terhadap kartu kredit versi saya.</p>
<p><span id="more-28"></span> Kelompok pertama adalah mereka yang melihat kartu kredit lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Di mata kelompok ini, tidak ada keuntungan nyata memiliki kartu kredit, sementara biaya tahunan<br />
tetap harus dibayarkan. Besar biaya yang hanya beberapa ratus riburupiah itu dipandang tidak sesuai dengan manfaat yang diberikan.</p>
<p style="margin-bottom: 12pt">Kita dapat memaklumi sepenuhnya jika yang berpendapat seperti ini adalah mereka yang berpenghasilan bulanan sekitar Rp2 jutaan atau kurang. Sayangnya, ada juga kawan saya yang bergaji belasan juta<br />
rupiah berpikiran seperti ini.<br />
Bank tidak menyukai kelompok ini terutama yang mempunyai penghasilan cukup besar, tetapi masih belum dapat diyakinkan akan perlunya kartu kredit dalam kehidupannya.</p>
<p style="margin-bottom: 12pt">Kelompok kedua adalah mereka yang memahami adanya manfaat dari kartu kredit dan pernah memiliki kartu kredit. Namun, karena kurang dapat mengendalikan diri (self control) saat memegangnya, mereka punya pengalaman buruk berhubungan dengan kartunya.</p>
<p>Mereka pernah terlilit utang kartu kredit yang menjerumuskan karena tidak mampu menahan nafsu belanjanya. Karenanya, sama seperti kelompok pertama, persepsi mereka terhadap kartu kredit juga<br />
negatif. Bahwa kartu kredit itu bagaikan ranjau yang sangat menjebak atau bahkan racun yang cukup mematikan.</p>
<p style="margin-bottom: 12pt">Persepsi seperti ini memang sangat disayangkan tetapi terhadap orang yang tidak mempunyai self control, kita tidak mempunyai alternatif terbaik selain menganjurkannya untuk berhenti menggunakan kartu<br />
kredit. Ini lebih baik daripada kehidupannya diuber-uber tagihan kartu kreditnya. Bank tidak menyukai kedua kelompok pertama ini.</p>
<p style="margin-bottom: 12pt">Kelompok ketiga adalah yang menilai kartu kredit itu sangat bermanfaat karena mempermudah manajemen kas dan belanja barang yang dibutuhkan. Kartu kredit sangat diperlukan saat kita menginap di<br />
hotel berbintang, menjamu rekan bisnis bersantap di restoran berkelas, menunggu saat keberangkatan di bandar udara, atau saat kita berada di luar negeri.</p>
<p>Kelompok ini akan menggunakan kartu kredit untuk menikmati semua kemudahan di atas. Saat tagihan jatuh tempo sekitar 2 &#8211; 6 minggu kemudian, mereka akan melunasi seluruh tagihannya. Inilah kelompok<br />
convenience users.</p>
<p>Walaupun berisiko sangat rendah, kelompok ini bukan yang paling disukai bank. Dari convenience users ini, bank hanya akan memperoleh iuran tahunan yang tidak seberapa nilainya, selain merchant&#8217;s fee<br />
tentunya. Inilah persepsi yang benar dan dilakukan mereka yang bijak dalam finansial.</p>
<p>Yang disukai bank</p>
<p>Kelompok keempat adalah yang memandang kartu kredit sebagai peningkatan batas belanja bulanan. Mereka tidak segan untuk membeli tidak saja barang yang dibutuhkan tetapi juga barang yangdiinginkan.</p>
<p>Saat tagihan datang, kelompok ini sebenarnya mempunyai kemampuan untuk melunasinya karena mempunyai akumulasi dana dan kekayaan yang cukup, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka lebih suka mengangsur tagihan minimum yang hanya sebesar 10% itu karena terasa sangat meringankan.</p>
<p>Inilah kelompok berisiko rendah menurut Ausubel dan yang paling disukai bank. Kelompok inilah yang diincar dan diperebutkan bank penerbit kartu kredit. Bank tidak ragu untuk memberikan iuran keanggotaan gratis untuk satu atau dua tahun pertama dan memberikan limit kredit hingga puluhan juta rupiah untuk kelompok ini.</p>
<p>Kelompok kelima adalah mereka yang cenderung high profile. Tidak hanya sebagai peningkatan kapasitas belanja, kartu kredit juga dipandang sebagai tambahan kas atau uang tunai di dompetnya. Jika diperlukan, kadang hanya untuk pamer diri, kelompok ini tidak ragu menggunakan kartu kreditnya untuk menarik ATM tunai. Ketika tagihan datang, kelompok ini hanya mampu untuk melunasi angsuran minimum.</p>
<p>Walaupun mempunyai persepsi yang salah, kelompok ini tetap sanggup membayar angsuran minimum setiap bulannya. Selama kewajiban minimum ini dapat dipenuhinya, kelompok ini berisiko sedang dan juga disukai bank penerbit. Bank mulai khawatir terhadap kreditnya kepada kelompok ini saat mereka lupa atau mulai kesulitan melunasi angsuran minimum yang hanya 10% dari saldo utangnya.</p>
<p>Kelompok keenam adalah mereka yang lebih besar pasak daripada tiang. Sama seperti persepsi sebelumnya, kelompok ini juga suka mengambil ATM tunai. Bedanya, kelompok ini mempunyai begitu banyak keinginandan kurang menyadari kemampuan finansialnya. Kelompok ini umumnya juga tidak mampu membatasi diri saat berbelanja. Akibatnya, tagihanbulanannya terus meningkat.</p>
<p>Inilah kelompok pengguna kartu kredit yang berisiko tinggi yangpaling tidak disukai dan sangat dihindari bank. Bukannya  mendatangkan keuntungan, bank justru menderita kerugian menghadapi<br />
kelompok ini.</p>
<p>Memahami enam persepsi di atas, di kelompok mana Anda berada?<br />
Harapan saya, Anda masuk kelompok ketiga.</p>
<p><em> Sumber: Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta oleh Budi Frensidy, Staf pengajar FEUI dan penulis buku</em><o:p></o:p></p>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--><span width="1"></span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=28&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/09/07/kartu-kredit-dibenci-dan-dicinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyatukan Pikiran dan Tindakan</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/08/23/menyatukan-pikiran-dan-tindakan/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/08/23/menyatukan-pikiran-dan-tindakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 13:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/08/23/menyatukan-pikiran-dan-tindakan/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pekerjaan menyejahterakan rakyat terbentur dengan banyak masalah, lingkungan rusak, pasar tradisional memudar, perdagangan terputus, keamanan memburuk, BUMN merugi, investor asing tak kunjung tiba, dan Visit Indonesia Year jalan di tempat, para pejabat sibuk membuat undang-undang baru. Semua masalah diasumsikan berawal dari ketiadaan payung hukum yang memadai. Padahal, pemimpin daerah mengeluhkan peraturan baru banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Ketika pekerjaan menyejahterakan rakyat terbentur dengan banyak masalah, lingkungan rusak, pasar tradisional memudar, perdagangan terputus, keamanan memburuk, BUMN merugi, investor asing tak kunjung tiba, dan Visit Indonesia Year jalan di tempat, para pejabat sibuk membuat undang-undang baru. Semua masalah diasumsikan berawal dari ketiadaan payung hukum yang memadai.</p>
<p>Padahal, pemimpin daerah mengeluhkan peraturan baru banyak yang datang dan pergi. Membuat peraturan memang bagian dari perubahan. Namun, orang- orang bijak memberi nasihat, &#8220;Ada dua pihak yang harus diwaspadai: yang tidak pernah berubah dan yang setiap saat berubah.&#8221;</p>
<p>Alignment dalam kamus diartikan penjajaran, di masjid dimaknai saf, di ketentaraan berarti membuat dalam satu barisan, dan dalam<br />
manajemen saya artikan menyatukan pikiran dan tindakan.</p>
<p>Negeri ini bisa gagal bukan karena kurang orang pintar, tetapi kurang disatukan orang-orang pintar itu. Seorang sekretaris jenderal<br />
memberi tahu saya bahwa departemennya sulit bergerak karena kebanyakan orang pintar. Sementara itu, Pak atau Bu Menteri sibuk jalan-jalan ke luar negeri. Orang-orang pintar yang tak disatukan akan asyik dengan pikiran sendiri, bekerja menurut hobi masing-masing.</p>
<p><span id="more-26"></span>Buruknya alignment tampak dalam kegiatan yang saling bertabrakan. Saat mengepalai sebuah badan di pemerintahan, saya sering terkejut dengan kunjungan delegasi dagang dari kantor kementerian A dan B. Mereka berkunjung sebelum kami datang, dengan tema yang berseberangan pula. Di Arena Pekan Raya Jakarta kita saksikan anjungan sebuah kota terletak di luar anjungan provinsinya. Di pameran pariwisata internasional di Berlin saya juga pernah melihat anjungan Bali Village yang dikelola swasta ditempatkan di luar anjungan Indonesia yang terkesan gelap dan sepi.</p>
<p>Masalah alignment tak hanya terjadi horizontal antardepartemen, tetapi juga horizontal dalam satu departemen. Di satu departemen hampir semua unit memiliki kegiatan sama dengan nama berbeda-beda.Kegiatan yang berulang sama dengan pelaku (pegawai dan pemborong) yang berbeda-beda jelas merupakan pemborosan.</p>
<p>Sikap ini sebenarnya tak lepas dari tradisi &#8220;menghabiskan anggaran&#8221; tanpa memikirkan akibat sehingga tujuan tak pernah tercapai.<br />
Bayangkan, satu departemen dengan lima jajaran eselon satu dan 25 jajaran eselon dua mempekerjakan 50 biro iklan dengan 100 pengelola acara.</p>
<p>Memimpin ke atas</p>
<p>Buruknya alignment merupakan cermin dari buruknya kepemimpinan. Tradisi birokrasi yang konon diadakan untuk melayani atasan masih terus berlanjut. Pemimpin baru yang berdatangan dari luar birokrasi tampak menikmati betul pelayanan super prima dari bawahannya. Di bandara mereka dijemput banyak orang, persis di depan pintu pesawat. Di hotel sudah menunggu puluhan orang yang siap melayani permintaan pejabat tinggi. Lift khusus disediakan untuk pejabat puncak.</p>
<p>Seorang CEO perusahaan-pengangkut yang baru diangkat dan kebetulan mantan dari perusahaan swasta baru-baru ini menyatakan: Stop semua itu! Ia menunjukkan karikatur yang terdiri dari banyak orang yang saling mencium tangan atasannya. Pejabat yang paling tinggi (menteri) memberi tangan kanannya untuk dicium pejabat eselon I.Tangan kiri pejabat eselon satu itu dicium pejabat eselon 2. Demikian seterusnya.</p>
<p>Kepemimpinan seperti ini merusak masa depan bangsa. Orang merasa tak sopan kalau tidak membawakan tas pemimpinnya, menjemput di depan pintu pesawat, duduk di paling depan saat pemimpin berpidato, dan seterusnya. Kepemimpinan tidak diadakan untuk melayani atasan, melainkan untuk mengubah manusia dan mencapai hasil. Pemimpin bukanlah pencipta pengikut, melainkan pencipta pemimpin-pemimpin baru.</p>
<p>Dalam model kepemimpinan alignment, seorang pemimpin menjalankan tiga peran sekaligus: memimpin ke atas, memimpin ke bawah, dan memimpin ke samping. Memimpin ke atas dan memimpin ke bawah merupakan bagian dari vertical alignment, sedangkan memimpin ke samping bagian horizontal alignment.</p>
<p>Yang saya temui, banyak menteri, bupati, dan gubernur hanya menjalankan peran memimpin ke bawah, sementara setiap bawahannya terperangkap peran memimpin ke atas. Bisa dibayangkan apa jadinya negeri ini kala semua pejabat hanya melayani atasannya saja. Mereka lupa bahwa birokrasi diadakan untuk kita, pembayar pajak.</p>
<p>Dalam manajemen birokrasi, kepemimpinan yang demikian sedang melakukan inersia, yaitu penyakit &#8220;pedalaman&#8221; yang membuat orang asyik melihat ke dalam sehingga sulit menerima perubahan. Inersia menyebabkan birokrat atau eksekutif terpenjara dalam silo (fungsi)-nya masing-masing sehingga sulit menerima pemimpin dari kiri-kanannya.</p>
<p>Horizontal alignment lemah, tidak ada koordinasi. Inilah awal dari pergeseran ekonomi dan negara kesatuan Indonesia yang karut-marut. Indonesia alignment lebih dari sekadar undang-undang, yaitu cara kerja dan memimpin.</p>
<p>Sumber: Menyatukan Pikiran dan Tindakan oleh Rhenald Kasali, Mengajar Manajemen Perubahan pada Universitas Indonesia</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=26&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/08/23/menyatukan-pikiran-dan-tindakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stella Award &#8211; Alasan untuk menjadi Orang Kaya Baru</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/06/02/stella-award-alasan-untuk-menjadi-orang-kaya-baru/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/06/02/stella-award-alasan-untuk-menjadi-orang-kaya-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 04:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/06/02/stella-award-alasan-untuk-menjadi-orang-kaya-baru/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah penghargaan bernama Stella Award diberikan untuk gugatan paling &#8220;konyol&#8221; di AS. Mereka mendapat ganti rugi besar justru karena ulah dan kekonyolannya sendiri. Dan pemenangnya adalah yang paling gila dan nekat! Stella Award juga sebagai penghargaan untuk para juri di negara tersebut. Nama Stella Award sendiri berasal dari Stella Liebeck. Nenek berusia 81 tahun ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sebuah penghargaan bernama Stella Award diberikan untuk gugatan paling &#8220;konyol&#8221; di AS. Mereka mendapat ganti rugi besar justru karena ulah dan kekonyolannya sendiri. Dan pemenangnya adalah yang paling gila dan nekat!</p>
<p>Stella Award juga sebagai penghargaan untuk para juri di negara tersebut. Nama Stella Award sendiri berasal dari Stella Liebeck. Nenek berusia 81 tahun ini menumpahkan kopi yang dibelinya di McDonald ke dirinya sendiri. Liebeck menggugat McDonald dan dinyatakan menang. Kasus Stella mengilhami pemberian penghargaan ini. Penghargaan ini juga disponsori oleh organisasi pengacara AS.</p>
<p>Para kandidat untuk Stella award tahun ini adalah:</p>
<p><span id="more-25"></span>1. Kandidat pertama, Kathleen Robertson dari Texas. Robertson memenangkan ganti rugi dari dewan juri sebesar $780.000 setelah ia menggugat sebuah toko furnitur. Robertson menggugat toko itu karena pergelangan kakinya patah setelah tersandung anak laki-laki yang berlarian di dalam toko tersebut. Pemilik toko furnitur sangat terkejut terhadap isi putusan tersebut,<br />
 mengingat anak lelaki yang &#8220;badung&#8221; itu adalah anak kandung Robertson sendiri.</p>
<p>2. Kandidat kedua adalah Carl Truman dari Los Angeles. Pria berusia 19 tahun ini memenangkan ganti rugi sebesar $74.000 dan biaya perawatan  kesehatan setelah tetangganya melindas tangannya dengan Honda Accord.  Truman tampaknya tidak menyadari bahwa tetangga pemilik Accord  tersebut sedang berada di balik setir mobil itu ketika Truman berusaha  mencuri velg mobil tersebut.</p>
<p> 3. Kandidat nomor tiga adalah Terrence Dickson dari Bristol, Pennsylvania. Dickson sedang berusaha meninggalkan rumah yang baru saja ia rampok dengan melewati pintu garasi. Namun, ia tidak bisa membuat pintu garasi otomatis itu membuka ke atas karena pintu itu sedang rusak.<br />
Dickson juga tidak bisa kembali ke rumah itu. Karena ketika ia menutup pintu yang menghubungkan garasi dengan rumah, pintu itu terkunci  secara otomatis. Karena keluarga pemilik rumah sedang berlibur,  Dickson terkunci di garasi selama delapan hari dan bertahan hidup  dengan meminum Pepsi dan sekantung besar makanan anjing yang ia temukan di garasi. Dickson-sang maling apes itu- menggugat asuransi pemilik rumah dan mengklaim bahwa kejadian itu mengakibatkan ia menderita gangguan mental yang hebat. Dewan juri sepakat untuk memberi Dickson $500.000.</p>
<p>4. Kandidat keempat adalah Jerry Williams dari Little Rock , Arkansas . Ia memenangkan ganti rugi $14.500 dan biaya perawatan kesehatan setelah bokongnya digigit oleh anjing tetangga . Anjing itu sendiri terantai di teras tetangganya. Award tersebut layak untuk diberikan kepada Williams. Juri berpendapat bahwa anjing tersebut mungkin sedikit terpengaruh oleh tindakan William yang saat itu menembaki anjing itu dengan senapan angin berkali-kali.</p>
<p>5. Kandidat kelima adalah Amber Carson dari Lancaster, Pennsylvania. Sebuah restoran di Philadelphia diperintahkan untuk membayar pada Carson sebesar $113.500 setelah ia terpeleset genangan minuman ringan yang menyebabkan tulang lengannya patah. Minuman itu bisa berada di lantai karena Carson melempar minuman itu pada pacarnya ketika bertengkar 30 menit sebelumnya.</p>
<p>6. Kandidat nomor enam adalah Kara Walton dari Delaware. Walton sukses menggugat sebuah night club ketika ia terjatuh ke lantai dari jendela WC umum night club tersebut. Kejadian itu menyebabkan patahnya dua gigi depan Walton. Kejadian itu terjadi ketika ia mencoba menyelinap melalui jendela WC demi menghindari membayar cover charge sebesar $3.50. Ia<br />
dianugerahi ganti rugi sebesar AS$12.000 dan biaya perawatan gigi.</p>
<p>7. Dan pemenangnya adalah?????? ????.. Merv Grazinsky dari Oklahoma City. Pada November 2001, Grazinsky membeli sebuah mobil caravan Winnebago sepanjang sekitar 9 meter. Dalam perjalanan pertamanya menuju rumah, ia melewati jalan tol, menyetel radio sambil menyetir dengan kecepatan  pada 70 mph. Lalu dengan santai, Grazinsky meninggalkan kursi supir ke belakang untuk membuat secangkir kopi . Tidak mengherankan, kendaraan itu keluar dari jalan tol, menabrak, dan terguling. Grazinsky menggugat Winnebago karena tidak menyebutkan dalam buku petunjuk bahwa kendaraan itu tidak bisa melakukan hal tersebut . Ia mendapat ganti rugi sebesar $1.750.000 plus sebuah Winnebago baru . Akibat kasus ini, Winnebago akhirnya mengubah buku petunjuknya.</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=25&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/06/02/stella-award-alasan-untuk-menjadi-orang-kaya-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku pernah datang dan aku sangat patuh</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/05/26/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-patuh/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/05/26/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-patuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 May 2008 12:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/05/26/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-patuh/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.</p>
<p>Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian.Dan dia rela melepaskan pengobatannya.</p>
<p><span id="more-24"></span>Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.</p>
<p>Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai<br />
melemah.<br />
Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, &#8220;saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan&#8221;. Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.</p>
<p>Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras).</p>
<p>Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi<br />
anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.</p>
<p>Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik.<br />
Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.</p>
<p>Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya.</p>
<p>Setiap hal yang lucu yang terjadi disekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.</p>
<p>Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia.Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.</p>
<p>Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan kepuskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk<br />
diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor<br />
karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi<br />
yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya<br />
bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai.<br />
Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil<br />
untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang<br />
keluar dari hidung Yu Yuan.</p>
<p>Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa.Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas.Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000$. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah diranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya.</p>
<p>Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.</p>
<p>Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar.</p>
<p>&#8220;Papa saya ingin mati&#8221;.</p>
<p>apanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, &#8220;Kamu baru berumur<br />
8 tahun kenapa mau mati&#8221;. &#8220;Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.&#8221;</p>
<p>Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.<br />
Yu Yuan berkata kepada papanya: &#8220;Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah foto ini&#8221;. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru.<br />
Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto.<br />
Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.</p>
<p>Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian<br />
menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail.<br />
Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri<br />
dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng.<br />
Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini&#8221;. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.</p>
<p>Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia<br />
saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi.Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.</p>
<p>Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.</p>
<p>Ada seorang teman di-email bahkan menulis: &#8220;Yu Yuan anakku yang tercinta<br />
saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh<br />
besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.&#8221;</p>
<p>Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota . Dana yang sudah<br />
terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk<br />
terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia<br />
sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan<br />
kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini<br />
membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min<br />
berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang<br />
sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi<br />
Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan<br />
pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan<br />
dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan<br />
tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut<br />
menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat<br />
dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perermpuannya. Air<br />
mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.</p>
<p>Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, &#8220;Anak yang baik&#8221;. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email.<br />
Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos<br />
sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu<br />
selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan<br />
sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari<br />
kesembuhan Yu Yuan.</p>
<p>Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.<br />
Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik<br />
Yu Yuan semakin lemah.</p>
<p>Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan:<br />
&#8220;Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati&#8221;. Yu Yuan kemudia berkata : &#8220;Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati&#8221;.Wartawan itupun menjawab, &#8220;Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik&#8221;. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan.&#8221;Tante ini adalah surat wasiat saya.&#8221;</p>
<p>Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.</p>
<p>Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal.<br />
Tolong,&#8230;.. ..<br />
Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada<br />
orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. &#8220;Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan<br />
sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh&#8221;.</p>
<p>Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi<br />
pipinya.</p>
<p>Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar<br />
dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.<br />
Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak<br />
bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut<br />
akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air.<br />
Sungguh telah pergi kedunia lain.</p>
<p>Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar<br />
kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita<br />
dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda<br />
berkata dengan pelan &#8220;Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil<br />
diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. &#8230;&#8230;&#8230; &#8230;.&#8221;<br />
demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.</p>
<p>Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan<br />
gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena<br />
leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa<br />
mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.</p>
<p>Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.<br />
Diatas batu nisannya tertulis, &#8220;Aku pernah datang dan aku sangat patuh&#8221;<br />
(30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.</p>
<p>Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.</p>
<p>Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. &#8220;Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana . Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata &#8220;Aku pernah datang dan aku sangat patuh&#8221;.</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=24&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/05/26/aku-pernah-datang-dan-aku-sangat-patuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Safety Riding Tips</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/12/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/12/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/12/</guid>
		<description><![CDATA[FYI bagi yg mengendarai motor… Selamatkan seluruh pengguna jalan dari keadaan jalan di Indonesia, dengan cara : 1. Turunkan kaki kanan anda, bila melihat lubang di sebelah kanan, antisipasi kendaraan di belakang untuk menghindari lubang di sebelah kanan 2. Turunkan kaki kiri anda, bila melihat lubang di sebelah kiri, antisipasi kendaraan di belakang untuk menghindari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia','serif'" lang="EN-US">FYI bagi yg mengendarai motor</span></strong><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: 'Georgia','serif'" lang="EN-US">…</span></strong><span lang="EN-GB"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.aridarmapala.com/wp-content/uploads/2008/04/signal.jpg" title="signal.jpg"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/uploads/2008/04/signal.jpg" title="signal.jpg" alt="signal.jpg" align="left" /></a><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Verdana','sans-serif'" lang="EN-US"></span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif'" lang="EN-US">Selamatkan seluruh pengguna jalan dari keadaan jalan di Indonesia, dengan cara :</span></p>
<p>1. Turunkan kaki kanan anda, bila melihat lubang di sebelah kanan, antisipasi kendaraan di belakang untuk menghindari lubang di sebelah kanan</p>
<p>2. Turunkan kaki kiri anda, bila melihat lubang di sebelah kiri, antisipasi kendaraan di belakang untuk menghindari lubang di sebelah kiri</p>
<p>3. Perlambat kendaraan, lalu, Angkat dan kepalkan tangan kiri anda, bila melihat kecelakaan, atau lubang melebar di jalan,mengisyaratkan kendaraan lain untuk memperlambat atau menghentikan laju kendaraannya, menghindari tabrakan beruntun.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-12"></span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif'" lang="EN-US">Berbuat kebajikan walau hanya sedikit, sebarkan email ini keseluruh kerabat anda.<br />
Selamatkan seluruh pengguna jalan dari keadaan jalan di Indonesia<br />
Jangan tunggu birokrasi, mulai dari sekarang!!<br />
Oknum pejabat korup tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah</span></p>
<p>Forum Safety Riding Jakarta / Road Safety Association<br />
Email : <a href="mailto:fsrj.pengaduan@gmail.com" target="_blank">fsrj.pengaduan@gmail.com</a><span lang="EN-GB"><o:p></o:p></span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=12&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari monyet</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/belajar-dari-monyet/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/belajar-dari-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/belajar-dari-monyet/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;MONYET &#8230; &#8221; Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika. Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'">&#8220;MONYET &#8230; &#8221;<br />
Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika. Caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.<br />
</span></p>
<p><span id="more-10"></span><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'"> Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'"> Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya.<br />
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'"> Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.<br />
Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.<br />
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa &#8220;toples-toples&#8221; itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'"> Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya.<br />
Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua &#8220;rasa tidak enak&#8221; terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman','serif'"> Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya bersih.<br />
Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasaan tidak enak itu? </span></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=10&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/belajar-dari-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GEJALA STROKE</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/gejala-stroke/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/gejala-stroke/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 12:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/gejala-stroke/</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu pesta barbeque, seorang teman terjatuh &#8211; dia meyakinkan semua orang yang datang kalau dia tidak apa-apa dan katanya hanya tersandung batu bata karena sepatu barunya (padahal mereka menawarkan memanggil paramedik). Mereka membantunya membersihkan diri dan mengambilkan piring makanan baru. Meskipun terlihat sedikit terguncang, Ingrid meneruskan menikmati sore itu. Malamnya, suami Ingrid menelpon memberitahukan semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sewaktu pesta barbeque, seorang teman terjatuh &#8211; dia meyakinkan semua orang yang datang kalau dia tidak apa-apa dan katanya hanya tersandung batu bata karena sepatu barunya (padahal mereka menawarkan memanggil paramedik). Mereka membantunya membersihkan diri dan mengambilkan piring makanan baru. Meskipun terlihat sedikit terguncang, Ingrid  meneruskan menikmati sore itu.</p>
<p>Malamnya, suami Ingrid menelpon memberitahukan semua orang bahwa istrinya telah dibawa ke rumah sakit &#8211; (pukul 6 sore besoknya, Ingrid meninggal).</p>
<p>Dia mendapat serangan stroke pada pesta barbeque. Kalau saja mereka tahu bagaimana mengenali tanda-tanda stroke mungkin Ingrid masih bersama kita hari ini.</p>
<p>Hanya membutuhkan satu menit untuk membaca ini.</p>
<p><span id="more-9"></span>Seorang ahli syaraf mengatakan bahwa kalau dia bisa menolong seorang korban stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan tersebut, dia bisa membalikkan pengaruh stroke&#8230;.secara total! Dia mengatakan bahwa triknya adalah mengenali dan mendiagnosa stroke dalam waktu 3 jam<br />
sejak serangan, yang sebenarnya merupakan hal yang sulit.</p>
<p>MENGENALI STROKE</p>
<p>Puji syukur kepada yang Maha Pencipta atas indera yang dapat mengingat TIGA hal berikut.</p>
<p>Baca dan pelajarilah!</p>
<p>Kadang-kadang gejala stroke sulit dikenali. Sayangnya,kurangnya kewaspadaan dapat mendatangkan bencana. Korban stroke dapat menderita kerusakan otak sewaktu orang-orang yang ada disekitarnya pada saat kejadian, gagal mengenali gejala-gejala stroke.</p>
<p>Sekarang banyak dokter mengatakan bahwa orang di sekitar korban dapat mengenali gejala stroke dengan menanyakan tiga pertanyaan sederhana ini:</p>
<p>1. Minta orang tersebut untuk<br />
<span style="color: red">TERSENYUM.<br />
</span><br />
2. Minta orang tersebut untuk<br />
<span style="color: red">MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA</span>.</p>
<p>3. Minta orang tersebut untuk<br />
<span style="color: red">MENGUCAPKAN SEBUAH KALIMAT SEDERHANA</span><br />
(yang masuk akal), contoh: &#8220;Hari<br />
ini cerah.&#8221; Blablabla&#8230; .</p>
<p>Bila orang tersebut tidak bisa melakukan apa yang kita minta diatas atau salah satunya segera<br />
bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama selanjutnya.</p>
<p>Seorang kardiolog berkata kalau setiap orang yang mendapatkan e-mail ini mengirimkannya kembali ke 10 orang, kau bisa bertaruh bahwa setidaknya satu nyawa akan diselamatkan</p>
<p>Jadilah seorang sahabat dan bagikan artikel ini dengan sebanyak mungkin ke temanmu, kau bisa saja menyelamatkan nyawa mereka.</p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=9&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/04/14/gejala-stroke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsekuensi</title>
		<link>http://www.aridarmapala.com/2008/04/13/konsekuensi/</link>
		<comments>http://www.aridarmapala.com/2008/04/13/konsekuensi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 17:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ari</dc:creator>
				<category><![CDATA[World Beyond]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aridarmapala.com/2008/04/13/konsekuensi/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Percuma saja berlayar, bila kau takut gelombang.&#8221; &#8211; Meggy Z. dalam `Jatuh Bangun&#8217; KISAH ini terjadi pada awal tahun ini. Seorang eksekutif muda, umurnya kira-kira forty-lah. Dia baru saja mencapai puncak kariernya. Jabatan Direktur Keuangan pada perusahaan multi nasional di Jakarta, kini menclok dalam kartu namanya. Namanya juga jadi bos, dia pun merasa perlu terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><blockquote><p>&#8220;Percuma saja berlayar, bila kau takut gelombang.&#8221;<br />
&#8211; Meggy Z. dalam `Jatuh Bangun&#8217;</p></blockquote>
<p class="MsoNormal">
KISAH ini terjadi pada awal tahun ini. Seorang eksekutif muda,<br />
umurnya kira-kira forty-lah. Dia baru saja mencapai puncak<br />
kariernya. Jabatan Direktur Keuangan pada perusahaan multi nasional<br />
di Jakarta, kini menclok dalam kartu namanya. Namanya juga jadi bos,<br />
dia pun merasa perlu terjadi perubahan besar dari<br />
penampilannya. &#8220;Apa ya?&#8221; ujarnya sambil menggaruk dagunya di depan<br />
cermin. Dia pun menjentikkan jemarinya. Ide besar menyembul di<br />
kepalanya. Saat itu pula dia mengambil telepon selulernya.</p>
<p><span id="more-8"></span> Esoknya, pagi-pagi sekali dia sudah berada di ruang pamer mobil<br />
mewah di bilangan Sudirman Central Business District atau lebih<br />
dikenal dengan SCBD. Ia ingin mengganti mobil lamanya dengan mobil<br />
keluaran terbaru. Sesuai janji sore sehari sebelumnya, dia pun sudah<br />
berada di sana tepat pada pukul 10 pagi. Calon pembeli yang serius,<br />
demikian keyakinan sales senior executive di ruang pamer mobil mewah<br />
itu, yang langsung melempar senyum.</p>
<p>Dengan wajah yang sudah disetel standar terhadap calon pembeli<br />
potensial, sang sales itu pun tak kehabisan kata untuk menjawab<br />
semua pertanyaan si direktur keuangan itu. Tak dinyana, proses tanya<br />
jawab itu berlangsung hingga menjelang waktu makan siang. Tiba-tiba<br />
sebuah pertanyaan keluar dari mulut calon pembeli. &#8220;Oh ya, untuk<br />
pemakaian bensin, satu liter untuk berapa kilo ya?&#8221;</p>
<p>Seperti dipeluk banci, sang sales tiba-tiba berubah cemberut. Sang<br />
eksekutif muda itu awalnya santai saja. Namun kemudian ia mengetahui<br />
ada yang salah dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang diajukan<br />
sang eksekutif muda tersebut mungkin tidak salah, tetapi jelas<br />
sangat di luar konteks. &#8220;Mau beli mobil mewah, kok masih mikirin<br />
pengeluaran bensin.&#8221; Mungkin pikir sang sales, &#8220;Hari genee…&#8221;</p>
<p>Kejadian di atas tak beda jauh dengan kisah berikut ini yang terjadi<br />
di pertengahan tahun 2006. Seorang pasangan muda, dengan satu anak<br />
mendatangi sebuah apartemen yang terletak di daerah Blok M, Jakarta<br />
Selatan. Apartemen tersebut baru saja diluncurkan. Promosi besar-<br />
besaran mampu menuntun pasangan muda itu untuk membelinya. Pada<br />
akhir pekan, dia mengajak istri dan anaknya untuk melihat calon<br />
rumah barunya.</p>
<p>Semua habis ditilik dan disapu mata. Mulai dari ruangan demi ruangan<br />
apartemen tersebut, hingga kolam renang, spa, lapangan olahraga,<br />
pusat kebugaran, taman bermain, dan fasilitas lainnya. Kelihatannya<br />
mereka sudah jatuh hati. Meski harga satu unit apartemen itu tak<br />
bisa dibilang murah sama sekali, dengan nilai banderol Rp 1,8<br />
miliar. Boleh cicil, boleh pula tunai.</p>
<p>Singkat cerita, sambil berjanji akan segera mengeksekusi<br />
keinginannya, keluarga itu pun pamit. Setelah tersadar, apartemen<br />
itu terletak tidak di jalan raya, sang istri untuk terakhir kalinya<br />
bertanya kepada bagian pemasaran apartemen tersebut. &#8220;Bus nomor<br />
berapa ya dari arah Blok M yang menuju ke sini?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan tersebut tidaklah salah. Bahkan jujur. Namun lagi-lagi,<br />
dalam pertemuan seperti itu, kata-kata dari sang nyonya di luar<br />
konteks.</p>
<p>Dua kejadian di atas memberikan pelajaran soal konsekuensi.<br />
Konsekuensi merupakan dampak ikutan dari suatu sebab. Konsekuensi<br />
jelas berbeda dengan risiko. Ketika Anda mengambil risiko, Anda<br />
belum mengetahui dampak ikutan yang akan terjadi. Misal kalau Anda<br />
membeli saham, risikonya hanya ada dua, Anda rugi atau Anda untung.<br />
Tetapi kalau konsekuensi, dampak yang mengikutinya sudah dapat<br />
diprediksi sebelumnya.</p>
<p>Contoh sederhana, ketika Anda ingin rumah terasa adem sekalipun<br />
matahari tengah membakar bumi, tak ada pilihan kecuali dengan<br />
memasang pendingin udara di seluruh ruang rumah Anda. Katakanlah<br />
diperlukan 4 pendingin udara untuk seluruh ruangan. Apa<br />
konsekuensinya? Jelas, anggaran untuk membayar tagihan listrik harus<br />
diperbesar. Jadi Anda harus sudah siap dengan adanya tambahan biaya<br />
yang lebih besar setiap bulannya.</p>
<p>Begitu pula halnya dalam pekerjaan. Ada konsekuensi-<wbr></wbr>konsekuensi yang<br />
harus Anda sadari sepenuhnya. Anda harus sudah dapat memprediksi<br />
dampak ikutan yang akan terjadi bila Anda akan memutuskan atau tidak<br />
memutuskan sesuatu.</p>
<p>Dalam suatu wawancara pemilihan jajaran Direktur di salah satu<br />
Komisi Negara, seorang CEO di salah satu perusahaan swasta yang<br />
masih aktif, ditanya oleh sang pewawancara. Bukankah ketika ia<br />
nantinya terpilih dan menjabat sebagai pejabat di komisi tersebut,<br />
gajinya tidak sama dengan yang ia dapatkan di perusahaan sebelumnya.<br />
Bahkan segala fasilitas kemewahan tak akan ia dapatkan lagi bila ia<br />
terpilih sebagai pejabat.</p>
<p>Sang CEO pun menjawab, bahwa hal itu merupakan konsekuensi bila<br />
kelak ia nanti terpilih. Ia sudah siap akan hal itu. Ada alasan<br />
tertentu, soal idealisme dan keyakinan, yang ia yakini bila ia akan<br />
menjabat sebagai pejabat negara.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari pun, Anda harus sudah siap akan<br />
konsekuensi bila Anda akan memutuskan atau tidak memutuskan sesuatu.<br />
Oleh karena itu, pikirkan dengan masak betul sebelum yakin akan<br />
keputusan yang akan Anda ambil. Jangan sampai nanti Anda merasa<br />
melakukan tindakan &#8220;bodoh&#8221; yang tidak perlu. <span><span style="color: white"></span> <o:p></o:p></span></p>
<p><!--~-|**|PrettyHtmlEnd|**|-~--></p>
<img src="http://www.aridarmapala.com/?ak_action=api_record_view&id=8&type=feed" alt="" /><p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://www.aridarmapala.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aridarmapala.com/2008/04/13/konsekuensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
